Jawa Pos Radar Lawu - Cadangan emas di Wonogiri terbukti tak bisa dipandang sebelah mata.
Berbagai penelitian geologi menunjukkan bahwa potensi emas di wilayah ini jauh melebihi ekspektasi awal, bahkan mencapai jutaan ton bijih emas yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Fenomena ini membuat Wonogiri bukan hanya dikenal sebagai daerah pertanian dan perbukitan, tetapi juga sebagai kawasan kaya sumber daya alam.
Dengan potensi emas yang luar biasa ini, muncul pertanyaan: apakah hal ini menjadi peluang besar bagi ekonomi lokal, atau justru membawa tantangan baru bagi lingkungan dan masyarakat?
Dari Gunung Purba Hingga Bukit Randu Kuning
Potensi emas ini tidak hanya terpusat di satu lokasi.
Emas tersebar di tiga kecamatan utama: Selogiri, Jatiroto, dan Karangtengah, dengan Bukit Randu Kuning di Desa Jendi, Selogiri sebagai titik utama penemuan.
Selain itu, bukit‑bukit di sekitarnya seperti Tugu, Tumbu, Pithi, Kepil, Geblak, dan Jangglengan juga dikabarkan menyimpan emas meski penambang tradisional menganggap Randu Kuning paling kaya.
Proses terbentuknya emas bermula dari aktivitas geologi jutaan tahun lalu (periode Eosen–Oligosen).
Ketika Gunung Api Purba Gajahmungkur meletus dan membentuk bebatuan endapan laut yang kemudian teralterasi oleh larutan hidrotermal hingga mengekstrak emas ke dalam urat kuarsa di dalam batuan.
Teknologi Tambang Modern vs Cara Tradisional
Salah satu perusahaan yang pernah mengajukan izin tambang di Priangan ini adalah PT Alexis Perdana Mineral.
Baca Juga: Gempa Dahsyat di Rusia dan Dampaknya ke Harga Emas: Apa Hubungannya?
Mereka menargetkan produksi emas mencapai 808,6 kg per tahun (sekitar 26.000 oz/tahun) dari lokasi Randu Kuning jika operasi berjalan lancer.
Sementara itu, penambangan tradisional oleh warga local dengan metode sederhana seperti menggali dan memakai merkuri masih berlangsung di beberapa titik, termasuk daerah Jatiroto dan Karangtengah.
Meskipun skalanya sangat kecil, pendapatan yang dihasilkan menjadi tambahan ekonomi bagi sebagian warga sekitar.
Harapan Ekonomi Bertemu Kekhawatiran Sosial dan Lingkungan
Baca Juga: Jayapura Siaga Tsunami Jepang Usai Gempa Rusia M8,7, Ini Peringatan BMKG
Cadangan sebesar ini tentu mengundang antusiasme. Namun, realitas di lapangan tak selalu mulus.
Izin tambang sempat menghadapi penolakan dari warga yang khawatir kehilangan mata pencaharian dan lingkungan mereka berubah drastis.
Terdapat kekhawatiran tentang alih fungsi lahan pertanian dan permukiman menjadi area tambang terbuka tanpa kompensasi memadai.
Menurut laporan Mongabay, dampak sosial-ekologis dari tambang ditemukan sangat serius: pencemaran air dan tanah, akses air bersih yang terganggu, hingga kerusakan lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat bila tidak diimbangi pengelolaan yang ketat dan transparan.
Antara Harapan dan Tantangan
Potensi emas di Wonogiri memang melebihi ekspektasi, namun bukan tanpa konsekuensi.
Jika dikelola secara profesional dan berkelanjutan, kekayaan ini bisa menjadi katalis kesejahteraan warga lokal dan daerah secara keseluruhan.
Namun jika sebaliknya, ancaman terhadap lingkungan dan sosial bisa muncul.
Pilihan ada di tangan pemangku kebijakan: apakah Wonogiri akan menjadi tambang emas berkelanjutan yang memberi manfaat luas, atau sekadar zona konflik dan kerusakan ekologis?
Pilihan ada di tangan pemangku kebijakan: apakah Wonogiri akan menjadi tambang emas berkelanjutan yang memberi manfaat luas, atau sekadar zona konflik dan kerusakan ekologis? (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid