Jawa Pos Radar Lawu - Pendidikan di Indonesia sering kali masih terjebak dalam pola pikir lama: siswa dianggap berhasil jika bisa menghafal banyak informasi dan mendapatkan nilai ujian yang tinggi.
Mulai dari SD hingga perguruan tinggi, banyak siswa yang masih berpikir bahwa belajar berarti menghafal, bukan memahami.
Bahkan, sebagian besar sistem evaluasi pun masih berfokus pada seberapa tepat siswa menjawab soal bukan pada seberapa dalam mereka memahami dan menerapkan ilmu tersebut.
Padahal, dunia di luar ruang kelas menuntut hal yang berbeda.
Dunia kerja, kehidupan sosial, hingga berbagai tantangan global tidak bisa diselesaikan hanya dengan hafalan.
Kemampuan seperti berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja dalam tim, serta beradaptasi dengan cepat jauh lebih dibutuhkan. Oleh karena itu, pendidikan perlu berubah.
Kita perlu berani meninggalkan model pembelajaran yang hanya menekankan pada mengingat, dan mulai beralih pada pembelajaran yang menumbuhkan pemahaman dan kreativitas.
Salah satu pendekatan yang mulai banyak diperkenalkan di dunia pendidikan modern adalah project based learning, di mana siswa belajar melalui proyek nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Ada juga metode problem based learning, yang mengajak siswa untuk menemukan solusi dari sebuah permasalahan.
Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar teori, tapi juga belajar proses berpikir, analisis, dan refleksi.
Di tengah transformasi ini, peran guru menjadi sangat penting. Guru bukan lagi sekadar penyampai materi, melainkan fasilitator pembelajaran.
Guru perlu menciptakan suasana belajar yang terbuka, di mana siswa bebas bertanya, berdiskusi, dan mencoba hal baru.
Ini tentu membutuhkan waktu dan pelatihan, karena tidak semua guru terbiasa dengan pendekatan semacam ini.
Namun, perubahan bisa dimulai dari langkah kecil misalnya dengan mengganti soal ujian hafalan menjadi soal analisis, atau memberikan tugas proyek daripada sekadar LKS.
Selain guru, peran orang tua juga tak kalah penting. Masih banyak orang tua yang hanya fokus pada nilai rapor dan peringkat kelas, tanpa mempertanyakan bagaimana proses belajar anaknya.
Padahal, jika orang tua bisa diajak untuk memahami pentingnya proses, bukan sekadar hasil, maka dukungan terhadap sistem pendidikan yang lebih sehat akan semakin kuat.
Pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak anak-anak yang pandai menjawab soal, tapi anak-anak yang mampu berpikir mandiri, berkolaborasi, dan punya empati.
Pendidikan yang menginspirasi bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi bagaimana proses belajar itu membentuk cara berpikir dan cara hidup.
Karena itu, mari kita ubah cara pandang. Belajar bukan sekadar menghafal, tapi membentuk karakter dan kemampuan hidup yang sesungguhnya. (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid