Jawa Pos Radar Lawu - Tanggal 8 Desember 1980 menjadi salah satu hari tergelap dalam sejarah musik modern.
Dunia dikejutkan oleh kabar bahwa John Lennon, mantan personel The Beatles sekaligus simbol perdamaian global, tewas ditembak oleh penggemarnya sendiri di luar apartemennya di New York.
Tragedi ini bukan hanya mengakhiri hidup seorang legenda, tetapi juga mengguncang jutaan hati di seluruh dunia.
John Lennon: Lebih dari Sekadar Musisi
Sebagai pendiri dan vokalis utama The Beatles, Lennon dikenal lewat lagu-lagu abadi seperti “Imagine”, “All You Need Is Love”, hingga “Give Peace a Chance”. Setelah The Beatles bubar pada 1970, ia aktif menyuarakan pesan perdamaian bersama istrinya, Yoko Ono, lewat aksi dan karya seni.
Lennon tak hanya dikenal sebagai musisi brilian, tapi juga aktivis yang berani menyuarakan isu-isu besar, dari perang Vietnam hingga ketimpangan sosial.
Kronologi Malam Pembunuhan
Pada malam naas itu, John dan Yoko baru saja pulang dari studio rekaman. Sekitar pukul 22:50, ketika mereka tiba di apartemen The Dakota, seorang pria bernama Mark David Chapman yang sudah menunggu seharian, menembakkan lima peluru ke arah Lennon dari jarak dekat.
Empat peluru bersarang di tubuhnya. Lennon dilarikan ke Rumah Sakit Roosevelt, namun nyawanya tak tertolong. Ia meninggal di usia 40 tahun.
Mark David Chapman: Penggemar yang Berubah Jadi Pembunuh
Chapman adalah seorang pria asal Hawaii yang dulunya penggemar Lennon, namun kemudian merasa kecewa dan marah. Ia menganggap Lennon sebagai sosok munafik karena hidup mewah namun menyuarakan perdamaian. Chapman juga terobsesi dengan novel The Catcher in the Rye, dan percaya dirinya sedang menjalankan misi “menegakkan kebenaran”.
Yang tragis, pada siang hari sebelum insiden, Chapman sempat meminta tanda tangan Lennon. Momen itu bahkan sempat difoto dan menjadi salah satu potret paling ironis dalam sejarah musik.
Dunia Berduka: Duka Kolektif dari New York hingga Liverpool
Berita kematian Lennon menyebar cepat ke seluruh dunia. Ribuan orang berkumpul di luar apartemen The Dakota dan di Central Park untuk berdoa dan mengenang sosoknya. Stasiun radio memutar lagu-lagunya sepanjang malam, dan berbagai negara menggelar acara penghormatan spontan.
Yoko Ono menolak membuat pemakaman terbuka, tetapi kemudian membangun Strawberry Fields Memorial di Central Park sebagai penghormatan abadi bagi sang suami.
Warisan Lennon: Musik, Perdamaian, dan Harapan
Meski nyawanya direnggut oleh kebencian, semangat Lennon tak pernah padam. Lagu “Imagine” justru semakin menguat sebagai simbol harapan dan perdamaian dunia. Setiap tahun pada 8 Desember, para penggemar berkumpul di Strawberry Fields untuk mengenang dirinya dengan doa, lilin, dan musik.
Lennon menjadi lebih dari sekadar musisi. Ia adalah suara perlawanan, simbol cinta, dan harapan bagi dunia yang lelah oleh kekerasan.
Lennon Meninggal, Tapi Mimpinya Terus Hidup
Pembunuhan John Lennon meninggalkan luka yang dalam bagi dunia. Tapi justru dalam kematiannya, ia menjelma menjadi simbol keabadian dari nilai-nilai yang ia perjuangkan: damai, cinta, dan kebebasan.
Seperti kata-katanya dalam lagu “Imagine”:
"You may say I'm a dreamer, but I'm not the only one."
Dan sampai hari ini, dunia masih bermimpi bersamanya. (fin)
Editor : AA Arsyadani