Jawa Pos Radar Lawu - Dunia pendidikan telah berubah. Saat ini, menjadi guru bukan lagi soal seberapa pintar menjelaskan pelajaran di papan tulis.
Lebih dari itu, guru masa kini dituntut untuk memahami teknologi, mampu mengelola emosi, dan membangun hubungan yang sehat dengan siswa.
Transformasi digital di sekolah membuat perangkat seperti Google Classroom, Canva, bahkan AI, masuk ke ruang-ruang kelas.
Guru yang tidak beradaptasi akan tertinggal.
Maka, penting bagi calon guru sejak dini membiasakan diri dengan platform pembelajaran digital, video interaktif, dan strategi mengajar yang memanfaatkan teknologi.
Namun, teknologi saja tak cukup. Anak-anak zaman sekarang tidak hanya butuh materi, mereka juga butuh dimengerti.
Inilah kenapa kecerdasan emosional menjadi bekal penting bagi guru.
Bagaimana membaca situasi psikologis siswa? Bagaimana mengelola kelas tanpa marah-marah?
Ini semua adalah skill yang tak diajarkan di buku, tapi bisa diasah lewat pengalaman dan pelatihan.
Menjadi guru juga berarti menjadi role model.
Baca Juga: Menjadi Guru di Era Digital: Tantangan dan Adaptasi yang Wajib Dipahami
Apa yang kita tunjukkan di kelas cara berbicara, menyelesaikan konflik, hingga cara menghadapi tekanan tanpa disadari akan ditiru oleh siswa.
Maka, pengembangan diri bagi guru harus terus berjalan.
Mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan sesama pendidik, atau sekadar membaca buku pengembangan diri bisa menjadi bekal berharga dalam perjalanan mengajar.
Guru hebat zaman sekarang bukan yang tahu segalanya, tapi yang terus mau belajar dan tumbuh bersama siswanya. (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur WachidSumber : Radar Lawu