Jawa Pos Radar Lawu-Di atas panggung teater berbingkai kayu ukir, lima tokoh Pandawa berdiri gagah, seolah hidup di tangan mungil seorang dalang cilik bernama Rafa Kusuma Atma Wibowo.
Duduk di dingklik yang menyimpan kenangan masa kecil, Rafa, remaja asal Yogyakarta dengan down syndrome, membawakan kisah Mahabharata dengan penuh semangat dan pesona.
Mengenakan blangkon batik khas daerahnya, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya.
Down syndrome yang menyertainya sejak lahir tidak menjadi halangan bagi Rafa untuk menekuni dunia pedalangan.
Justru, dengan kegigihan dan cinta yang ditanamkan sang ayah, Ludy Bimasena Wibowo, Rafa tumbuh menjadi pribadi yang luar biasa.
Menurut Ludy, wayang dipilih bukan hanya sebagai terapi motorik dan kognitif, tapi juga sebagai bentuk pelestarian budaya Jawa yang perlahan mulai terlupakan.
Awalnya, Rafa hanya menonton VCD pertunjukan Ki Anom Suroto, namun dari situlah tumbuh kecintaannya. Meski sempat kesulitan mendapatkan pelatih, Rafa belajar secara otodidak.
Ia menirukan gerak-gerik dalang dari layar laptopnya. "Dia bisa main dari pagi sampai malam kalau sedang semangat," ujar sang ayah.
Yang membuat Rafa unik, ia tidak menghafal nama wayang atau naskah cerita. Namun, dengan ketekunan dan daya ingat visual yang kuat, ia mampu menirukan gerakan dan irama gamelan dengan presisi.
Ia tampil percaya diri di berbagai acara, termasuk pada Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional 2023, membawakan lakon “Durno Gugur” meski memiliki tantangan dalam berbicara.
Perjalanan Rafa tak selalu mudah.
Saat lahir, teknologi belum mampu mendeteksi down syndrome sejak dalam kandungan. Kondisi tubuhnya yang lemah sempat membuat kedua orang tuanya terpuruk.
Namun, mereka segera bangkit, mencari informasi, hingga akhirnya bergabung dengan komunitas seperti POTADS dan YDSI, yang mendukung keluarga dengan anak berkebutuhan khusus.
Rafa pun harus melewati berbagai tantangan lain, seperti gangguan kesehatan saat kecil hingga sulitnya mencari sekolah yang menerima siswa difabel.
Ia sempat menjalani homeschooling selama dua tahun sebelum akhirnya diterima di SLB Pembina Yogyakarta. Sayangnya, masa homeschooling tersebut tidak diakui secara administratif.
Namun, di balik semua kesulitan itu, Rafa terus berkembang. Ia menunjukkan bahwa down syndrome bukanlah akhir dari segalanya. Bahkan, menurut wali kelasnya, Yeni Ekawati, masih banyak anak seperti Rafa yang justru disembunyikan oleh keluarganya karena rasa malu.
Hal ini sangat disayangkan, karena setiap anak memiliki potensi untuk berkembang jika diberi kesempatan dan dukungan.
Melalui kisah Rafa, sang ayah berharap bisa membuka mata banyak orang tua bahwa anak berkebutuhan khusus layak untuk dibanggakan, bukan disembunyikan. “Anak-anak ini punya perasaan dan pikiran. Mereka manusia seutuhnya. Sudah saatnya kita memutus rantai diskriminasi terhadap mereka,” tegasnya.
Rafa bukan sekadar dalang cilik. Ia adalah simbol perjuangan, harapan, dan bukti nyata bahwa seni bisa menjadi jembatan untuk kesetaraan. Dengan wayang di tangan, ia bercerita—bukan hanya tentang Mahabharata, tapi juga tentang keberanian untuk berbeda dan bersinar.(galuh-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid