Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Mengenang Tragedi Madiun 1948: Catatan Kelam di Balik Sumur Maut dalam Lintasan Sejarah Bangsa

Sukma Maharani Putri • Selasa, 22 Juli 2025 | 12:21 WIB

BERSEJARAH: Monumen Soco, Magetan menjadi saksi bisu sejarah kelam Gerakan 30 S PKI. (OKTA-MAGANG-PNM/RADAR LAWU)
BERSEJARAH: Monumen Soco, Magetan menjadi saksi bisu sejarah kelam Gerakan 30 S PKI. (OKTA-MAGANG-PNM/RADAR LAWU)

Jawa Pos Radar Lawu - Pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1948 menjadi salah satu lembaran kelam dalam sejarah masyarakat Madiun. Aksi tersebut telah menorehkan luka mendalam dan meninggalkan stigma negatif yang bertahan hingga kini.

Dalam tragedi yang dikenal sebagai Pemberontakan PKI 1948, ribuan orang menjadi korban kekerasan. Para santri, kiai, tokoh agama, hingga pejabat pemerintah mengalami penyiksaan dan kehilangan nyawa secara tragis. Mereka dibuang ke dalam “sumur maut” lubang-lubang tua yang kini menjadi saksi bisu atas peristiwa kemanusiaan yang memilukan ini.

Baca Juga: Self-Serving Bias: 3 Tips Agar Kita Tidak Terjebak Menyalahkan Sekitar saat Gagal

Aksi Teror yang Tersistematis

Pemberontakan meletus pada 18 September 1948, memicu gelombang kekerasan di wilayah Madiun dan sekitarnya. Kelompok yang terlibat menyasar pesantren dan tokoh agama sebagai musuh ideologis. Soco, Cigrok, Takeran, Magetan, dan Gorang Gareng menjadi desa-desa yang ternoda darah dan air mata.

Sumur maut yang tersebar di lokasi-lokasi tersebut menjadi tempat pembuangan korban. Banyak yang bahkan masih hidup saat dilempar ke dalam sumur.

Kisah Nyata dari Lokasi Sumur Maut

1. Pesantren Burikan, Magetan

Dua kiai dari Tulungagung dan Tegalrejo, Kiai Hamzah dan Kiai Nurun, diculik dan dibuang ke sumur maut di Desa Batokan.

2. Sumur Cigrok

Kiai Imam Sofwan mengumandangkan azan terakhir sebelum dijatuhkan hidup-hidup ke dalam sumur maut. Para korban dipukuli hingga tak bernyawa lalu dilemparkan satu per satu.

3. Kiai Roqib: Lolos dari Maut

Diculik, disiksa, namun berhasil melarikan diri dari maut berkat keahliannya dalam bela diri.

Baca Juga: Kurikulum 2025 Tidak Berubah Kemendikdasmen Pastikan Tetap Gunakan Kurikulum Merdeka

4. KH Soelaiman Zuhdi dan Kiai Daenuri

KH Soelaiman diculik saat i’tikaf, lalu dilempar ke sumur maut. Kiai Daenuri menjadi saksi mata penyiksaan keji terhadap para ulama.

5. Mbah Dimyathi (Mbah Ngompak)

Saat sedang salat malam, ia diseret oleh kuda sejauh 10 km, lalu dibuang dari jembatan. Jasadnya ditemukan dalam keadaan mengenaskan.

6. Bupati Magetan, Sudibjo

Dibunuh secara keji dengan digergaji dan dijatuhkan ke dalam sumur maut.

7. Nyonya Sakidi dan Anak-anaknya

Istri almarhum Sakidi ikut menyusul suaminya ke lokasi sumur maut sambil menggendong anak. Ia dibunuh bersama anak-anaknya. Anak-anak yang selamat mengalami trauma seumur hidup.

Sumur maut menjadi simbol kekejaman ideologi yang menolak nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan. Hingga kini, trauma kolektif itu masih membekas dan menjadi alasan kewaspadaan terhadap ideologi serupa. (fin)

 

Editor : AA Arsyadani
#sejarah #pemberontakan g30s pki #fakta sejarah