Jawa Pos Radar Lawu-Fenomena menurunnya jumlah siswa baru di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) kembali terjadi di tahun ajaran 2025/2026.
Seperti yang terjadi di SDN Setono, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, Jawa Timur, yang untuk kesekian kalinya tidak mendapatkan satu pun pendaftar baru di kelas 1.
Ruang kelas yang semestinya menjadi tempat belajar siswa baru, kini justru dialihfungsikan menjadi musala.
Menurut informasi, minimnya lulusan taman kanak-kanak (TK) di wilayah sekitar menjadi penyebab utama tidak adanya siswa baru.
Keadaan ini diperparah dengan persaingan ketat dari sekolah lain, baik negeri maupun swasta, yang menawarkan fasilitas dan program pendidikan yang lebih menarik.
Akibatnya, SDN Setono hanya memiliki total 15 siswa aktif, yang tersebar di tiga jenjang: kelas 6 (8 siswa), kelas 4 (4 siswa), dan kelas 3 (2 siswa). Sementara kelas 1, 2, dan 5 benar-benar kosong tanpa murid.
Kondisi serupa juga terjadi di berbagai daerah lain. Di SD Negeri 1 Kendalrejo, Kecamatan Durenan, Trenggalek, jumlah siswa baru tahun ini hanya satu orang—turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya yang masih menerima 12 siswa.
Di SDN Karaton 5, Kelurahan Karaton, Pandeglang, Banten, sekolah hanya menerima tujuh siswa baru.
Hal ini diperparah oleh informasi beredar bahwa sekolah tersebut akan dimerger, serta kondisi fisik sekolah yang dianggap tidak layak.
Masalah ini bukanlah kejadian satu kali, melainkan gejala yang terus berulang dari tahun ke tahun. Di banyak daerah, sekolah dasar negeri semakin sulit bersaing, terutama dengan sekolah swasta yang dinilai lebih unggul dalam hal fasilitas, pendekatan pembelajaran, dan daya tarik program ekstrakurikuler.
Tak sedikit pula orang tua yang lebih memilih sekolah berbasis agama atau internasional demi memberikan "masa depan lebih baik" bagi anak-anak mereka.
Mengapa Sekolah Negeri Kian Sepi?
Fenomena menyusutnya jumlah siswa baru di sekolah dasar negeri dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling terkait:
1.Penurunan Angka Kelahiran: Di sejumlah daerah, khususnya di desa atau kawasan pinggiran, angka kelahiran mengalami penurunan signifikan. Akibatnya, jumlah anak usia sekolah pun ikut menurun.
2.Urbanisasi: Banyak keluarga muda memilih tinggal di kota atau pusat-pusat ekonomi, menyebabkan populasi anak di desa makin menyusut. Sekolah-sekolah di daerah terpencil pun kehilangan calon siswa potensial.
3.Kualitas Fasilitas dan Infrastruktur: Sekolah dengan kondisi bangunan yang tidak terawat, kekurangan guru, atau minim fasilitas penunjang kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Ini menyebabkan orang tua ragu untuk mendaftarkan anaknya.
4.Isu Merger Sekolah: Rencana penggabungan atau merger beberapa sekolah membuat sebagian orang tua khawatir anak mereka akan dipindahkan ke lokasi lain yang lebih jauh.
Informasi ini, meski belum tentu resmi, cukup untuk mengalihkan pendaftaran ke sekolah lain yang dianggap lebih "aman".
5.Persaingan dari Sekolah Swasta dan Madrasah: Sekolah swasta dan madrasah kerap menawarkan metode pengajaran yang lebih variatif, dukungan agama yang kuat, serta lingkungan belajar yang lebih bersih dan teratur. Hal ini membuat sekolah negeri kehilangan daya saing.
Masa Depan Sekolah Negeri di Ujung Tanduk
Kondisi seperti ini menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan pendidikan dasar negeri di Indonesia.
Padahal, sekolah negeri seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjamin akses pendidikan yang merata dan terjangkau bagi seluruh warga negara.
Jika tidak segera diambil langkah konkret, seperti perbaikan fasilitas, penguatan tenaga pendidik, serta kampanye positif mengenai kualitas sekolah negeri, maka bukan tidak mungkin akan semakin banyak sekolah-sekolah dasar negeri yang terpaksa tutup karena kekurangan siswa.
Di sisi lain, merger sekolah juga bukan solusi jangka panjang jika tidak dibarengi dengan perencanaan tata kelola pendidikan yang baik.
Pemerintah daerah perlu melakukan pemetaan demografis yang akurat, menggandeng masyarakat untuk memahami kebutuhan pendidikan setempat, dan melibatkan pihak swasta dalam kolaborasi yang saling menguntungkan.
Baca Juga: Terima Kasih Kakak OSIS: Pesan dan Kesan dari Siswa Baru di Akhir MPLS
Menjawab Tantangan: Rebranding Sekolah Negeri
Untuk mengatasi krisis ini, diperlukan semacam “rebranding” atau pembaruan wajah sekolah negeri agar lebih menarik dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Misalnya, menyediakan program unggulan seperti kelas digital, pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), hingga pembinaan karakter yang terintegrasi.
Sekolah negeri juga perlu menjadi ruang yang inklusif, ramah anak, dan bebas dari praktik-praktik kekerasan atau perundungan, yang selama ini menjadi kekhawatiran sebagian orang tua.
Jika pembenahan dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan, sekolah negeri bisa kembali menjadi pilihan utama masyarakat.(galuh-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid