Jawa Pos Radar Lawu - Fenomena putus sekolah masih menjadi tantangan besar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan data terbaru dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, tercatat lebih dari 145.000 anak usia sekolah tidak mengenyam bangku pendidikan formal.
Angka Putus Sekolah Tertinggi di Kabupaten TTS
Dari jumlah tersebut, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menjadi wilayah dengan angka tertinggi, yakni sekitar 25.000 anak yang tidak bersekolah.
Disusul oleh beberapa daerah lainnya yang juga memiliki jumlah cukup besar. Kondisi ini menunjukkan masih adanya kesenjangan akses pendidikan, terutama di daerah pedalaman dan terpencil.
Kepala Dinas Pendidikan NTT, Linus Lusi, menyebutkan bahwa penyebab utama tingginya angka ini antara lain adalah persoalan ekonomi keluarga, akses transportasi, dan kesadaran pendidikan yang masih rendah di beberapa komunitas.
Usia dan Jenjang yang Paling Rentan
Anak-anak yang tidak bersekolah paling banyak berada pada rentang usia pendidikan dasar dan menengah.
Jenjang SMP dan SMA menjadi fase paling rawan karena banyak siswa yang memilih untuk berhenti sekolah setelah lulus SD, biasanya karena ingin bekerja membantu orang tua atau karena faktor pernikahan dini.
Langkah Pemerintah Provinsi
Pemerintah Provinsi NTT menyatakan telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menekan angka putus sekolah, antara lain:
Baca Juga: Benarkah 2026 WNI di Jepang Diblacklist? KBRI Tokyo Buka Suara Soal Kerja Sama dengan Indonesia
Program pendidikan alternatif berbasis komunitas.
Mendorong kolaborasi dengan organisasi non-pemerintah (NGO).
Penyaluran bantuan pendidikan seperti PIP dan KIP secara lebih merata.
Pendataan ulang anak usia sekolah melalui Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat desa dan kecamatan.
Selain itu, Pemprov juga mengajak tokoh masyarakat dan agama untuk ikut berperan aktif menyuarakan pentingnya pendidikan, terutama di wilayah-wilayah yang masih sulit dijangkau.
Harapan ke Depan
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, sekolah, masyarakat, dan lembaga sosial, diharapkan tidak ada lagi anak NTT yang tertinggal dari dunia pendidikan.
Pendidikan adalah hak dasar, dan masa depan daerah ini sangat ditentukan oleh generasi muda yang berpengetahuan dan berdaya saing.(ones-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid