Jawa Pos Radar Lawu – Peresmian pabrik baterai kendaraan listrik di Indonesia pada awal pekan ini bukan hanya mencatat tonggak sejarah dalam sektor energi terbarukan nasional.
Acara tersebut juga mencuri perhatian publik karena kehadiran sosok legendaris dunia bisnis Tanah Air yang jarang tampil di muka umum: Tomy Winata.
Presiden terpilih Prabowo Subianto dikabarkan cukup terkejut ketika mengetahui nama Tomy Winata disebut sebagai salah satu tokoh penting di balik struktur konsorsium proyek ambisius ini.
Tomy bukan sekadar hadir, tetapi turut menjadi salah satu pemodal kunci lewat jejaring bisnisnya yang kuat, termasuk Danantara, entitas yang dipercaya sebagai katalis pembiayaan industri baterai nasional.
“Proyek ini tidak hanya ditopang oleh CBL (Contemporary Amperex Technology Ltd), tetapi juga oleh kekuatan lokal seperti Antam, IBC, dan Danantara,” ujar Anggota Komisi VII DPR RI Ramson Siagian, menegaskan keterlibatan penting pihak domestik dalam ekosistem baterai terintegrasi tersebut.
Dalam struktur ini, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menggandeng Indonesia Battery Corporation (IBC) serta mitra global untuk mengembangkan rantai pasok baterai dari hulu ke hilir.
Namun, publikasi terbaru menunjukkan bahwa keberhasilan pendanaan proyek ini tak lepas dari pengaruh Danantara yang berafiliasi erat dengan jaringan bisnis milik Tomy Winata.
Siapa Sebenarnya Tomy Winata?
Nama Tomy Winata, atau akrab disapa TW, adalah legenda dalam lanskap bisnis Indonesia.
Pria kelahiran Pontianak, 23 Juli 1958 itu dikenal luas sebagai pemilik Artha Graha Group, konglomerasi besar yang mencakup perbankan, properti, infrastruktur, hingga kegiatan sosial kemanusiaan lewat yayasan Artha Graha Peduli.
Langkah besar Tomy dimulai sejak 1988 ketika ia menyelamatkan Bank Propelat bersama Yayasan Kartika Eka Paksi (YKEP), milik TNI AD.
Bank yang saat itu nyaris bangkrut berhasil diubah menjadi Bank Artha Graha, lalu berkembang hingga menjadi entitas terbuka: Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC.JK).
Pada sektor properti, Tomy mengembangkan Sudirman Central Business District (SCBD) seluas 45 hektare.
Termasuk Gedung Bursa Efek Indonesia dan proyek ambisius The Signature Tower yang digadang sebagai gedung tertinggi kelima di dunia.
Namun, selama ini Tomy dikenal low-profile. Ia jarang muncul dalam pemberitaan, apalagi menghadiri peresmian proyek.
Itulah mengapa kehadirannya dalam ekosistem industri baterai nasional langsung menarik perhatian, terutama di kalangan elite politik dan bisnis.
Prabowo dan Kejutan Industri Energi Masa Depan
Prabowo Subianto, yang dikenal sangat berhati-hati memilih mitra strategis untuk proyek energi nasional, menyambut baik keterlibatan Danantara dan Tomy Winata.
“Ini langkah besar Indonesia untuk tidak hanya menjadi eksportir nikel mentah, tapi masuk ke pusat rantai pasok baterai dunia,” ucap Prabowo dalam sambutan singkatnya.
Direktur Utama Antam, Achmad Ardianto menambahkan bahwa proyek ini dibangun dengan prinsip keberlanjutan dan efisiensi energi.
“Kita ingin Indonesia tidak sekadar menjual bahan mentah, tapi menjadi pemain utama di industri global,” ujarnya.
Keikutsertaan Tomy Winata melalui Danantara memperkuat struktur finansial proyek.
Sekaligus memberikan sinyal kepada investor bahwa industrialisasi baterai di Indonesia didukung penuh oleh kekuatan nasional.
Ketika Visi Ekonomi dan Strategi Bertemu
Tomy Winata dikenal memiliki visi jauh ke depan. Ia pernah menyebut kawasan SCBD akan menjadi "Manhattan of Indonesia".
Kini, kiprahnya merambah sektor energi terbarukan lewat kolaborasi dengan BUMN seperti Antam dan IBC.
Dengan dukungan legislatif, pendanaan domestik yang solid, dan jejaring internasional seperti CATL, proyek baterai kendaraan listrik ini dinilai akan menjadi lompatan besar Indonesia untuk keluar dari ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah.
Keterlibatan nama Tomy Winata—yang sempat membuat Prabowo terkejut—hanya menunjukkan satu hal: masa depan energi Indonesia sedang dibentuk oleh tangan-tangan kuat yang bekerja diam-diam tapi berdampak nyata. (kid)
Editor : Nur Wachid