Jawa Pos Radar Lawu - Selat Malaka bukan sekadar jalur sempit antara Indonesia dan Malaysia, ini adalah urat nadi perdagangan dunia.
Setiap tahunnya, lebih dari 90.000 kapal melewatinya, membawa 40% dari total perdagangan global termasuk minyak, biji-bijian, dan produk vital lainnya.
Tak hanya di permukaan laut, jaringan kabel internet bawah laut yang menopang konektivitas global juga melintas di bawahnya.
Namun, di balik pentingnya selat ini, tersembunyi ancaman geologis yang sangat serius: letusan gunung berapi Indonesia.
Letusan Gunung Bisa Ganggu Dunia: Belajar dari Tambora
Indonesia punya sejumlah gunung api aktif di sepanjang Sumatra dan Jawa, seperti Merapi, Semeru, dan Krakatau.
Letusan Gunung Tambora pada 1815 bahkan menurunkan suhu global dan memicu gagal panen di Eropa serta AS.
Menurut penelitian Universitas Cambridge, letusan Merapi dengan skala VEI6 bisa menutup langit kawasan Selat Malaka dengan abu.
Potensi kerugian global? Hingga US$2,5 triliun dalam 5 tahun, menyaingi dampak pandemi.
Risiko Nyata bagi Selat Malaka
Letusan besar tak hanya memuntahkan abu, tapi juga menciptakan tsunami, batu apung, dan lahar. Dampaknya mencakup:
- Jalur pelayaran terganggu akibat laut penuh abu dan puing.
- Penerbangan lumpuh akibat partikel vulkanik di atmosfer.
- Kabel internet bawah laut bisa putus, seperti saat letusan Tonga 2022.
Transaksi keuangan global dari Singapura hingga Hong Kong bisa terganggu karena satelit tak mampu gantikan kabel bawah laut sepenuhnya.
Dunia Perlu Bersiap: Dari Sistem Peringatan hingga Jalur Alternatif
Beberapa upaya mitigasi sudah dilakukan:
- Sistem peringatan tsunami regional
- Monitoring gunung api oleh PVMBG & UNESCO
- Rencana Kanal Thailand oleh China sebagai jalur alternatif perdagangan
Namun, banyak gunung di Indonesia masih minim pemantauan.
Investasi dalam sensor, AI prediksi letusan, dan jalur komunikasi cadangan menjadi kunci
Selat Malaka menyimpan peran strategis dan risiko besar. Jika gunung berapi Indonesia meletus besar-besaran, dunia akan terguncang dari sektor logistik, penerbangan, komunikasi digital, hingga perekonomian global.
Dunia harus sadar: gunung-gunung di Indonesia bukan hanya urusan lokal, tapi kepentingan global. (fin)
Editor : AA Arsyadani