Jawa Pos Radar Lawu - Teheran mengklaim telah memperoleh ribuan dokumen rahasia terkait program nuklir Israel dalam sebuah operasi intelijen besar-besaran.
Laporan ini disampaikan oleh lembaga penyiaran nasional Iran, IRIB, pada Sabtu (7/6).
Sampai kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Israel.
Menurut IRIB, dokumen-dokumen yang disebut “sangat sensitif dan strategis” itu berhasil diselundupkan keluar dari Israel dan kini berada di tangan badan intelijen Iran.
Materi tersebut diklaim mencakup data lengkap tentang fasilitas dan rencana nuklir Israel, yang selama ini tertutup dari pengawasan internasional.
Laporan itu menyebutkan bahwa karena volume data yang sangat besar, proses peninjauan dan pengelompokan dokumen bisa memakan waktu beberapa minggu.
Untuk memastikan keamanan pengiriman, proses eksfiltrasi dokumen dilakukan dalam keheningan media.
Klaim Iran ini muncul hanya beberapa minggu setelah dua warga Israel ditangkap di Nesher, dekat Haifa, atas dugaan melakukan aktivitas mata-mata untuk Iran.
Meski belum dikonfirmasi, IRIB menduga penangkapan tersebut terkait dengan penyelundupan dokumen rahasia ini.
Namun, menurut klaim mereka, penangkapan terjadi setelah dokumen berhasil keluar dari Israel.
Israel selama ini dikenal sebagai kekuatan nuklir regional, meski tak pernah secara resmi mengakui kepemilikan senjata nuklirnya.
Program nuklir Israel dimulai sejak tahun 1952 dengan bantuan teknologi dari Prancis dan AS.
Tidak seperti Iran, Israel bukan anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan tidak membuka fasilitas nuklirnya untuk inspeksi badan atom PBB.
Sikap Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga menuai kritik karena dinilai tidak memberi tekanan terhadap Israel, berbeda dengan pendekatan keras mereka terhadap program nuklir Iran.
Jika benar, kebocoran data ini bisa menjadi pukulan telak bagi Israel dan membuka kembali perdebatan global mengenai transparansi dan pengawasan terhadap senjata nuklir di Timur Tengah. (fin)
Editor : AA Arsyadani