Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Menag Nasaruddin Umar Bawa Pesan Moderasi Beragama dan Ekoteologi Indonesia di Forum Dunia

AA Arsyadani • Jumat, 23 Mei 2025 | 18:36 WIB
Menag Nasaruddin menyampaikan moderasi, cinta kasih, dan ekoteologi Indonesia di Georgetown University, Washington.
Menag Nasaruddin menyampaikan moderasi, cinta kasih, dan ekoteologi Indonesia di Georgetown University, Washington.

Jawa Pos Radar Lawu - Menteri Agama  Nasaruddin Umar menorehkan kiprah internasional dengan membawa gagasan Indonesia sebagai contoh dialog antaragama, toleransi, dan keadilan sosial dalam forum bergengsi di Georgetown University, Washington D.C., Selasa (20/5/2025).

Forum ini diselenggarakan oleh School of Foreign Service Institute for the Study of Diplomacy dan Alwaleed Center for Muslim-Christian Understanding.

Moderator diskusi adalah Dr. Nader Hashemi, dengan kehadiran pakar Islam Asia Tenggara Dr. Kevin W. Fogg dari University of North Carolina.

Baca Juga: Ketika Bumi Semakin Rusak, Tafsir Ekologi Jadi Harapan Baru Atasi Krisis Lingkungan

Indonesia: Laboratorium Kerukunan dan Toleransi

Dalam pemaparannya, Nasaruddin menyampaikan bahwa Indonesia merupakan miniatur dunia dalam hal keragaman.

Dengan lebih dari 700 bahasa, 1.300 suku bangsa, enam agama resmi, dan ratusan kepercayaan lokal, Indonesia menunjukkan bagaimana pluralisme dapat menjadi kekuatan pemersatu.

“Tidak ada kebijakan strategis yang diambil tanpa mengacu pada nilai-nilai agama,” tegas Menag, yang juga alumni post-doktoral Georgetown.

Menurutnya, konstitusi menjamin kebebasan beragama, namun harus disertai tanggung jawab dan penghormatan terhadap hak orang lain.

Itulah esensi dari moderasi beragama.

menagBaca Juga: Menag Nasaruddin Umar: Tanpa Kedamaian, Indonesia Tak Dilirik Turis Dunia

Curriculum of Love: Pendidikan Berbasis Cinta dan Toleransi

Salah satu inisiatif unggulan Kemenag adalah Curriculum of Love, kurikulum berbasis cinta kasih yang menanamkan nilai toleransi, kebhinekaan, dan nasionalisme sejak dini di lembaga pendidikan.

“Toleransi bukan menyamakan agama, tetapi saling menghormati dan memberi ruang untuk berkeyakinan,” ujar Nasaruddin.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga tradisi lokal sebagai bagian dari ekspresi keagamaan yang dinamis dan inklusif.

Baca Juga: Kurikulum Cinta, Apa Itu? Inovasi Kemenag dalam Pendidikan Karakter Berbasis Kasih Sayang

Kesetaraan Gender dan Perempuan sebagai Garda Depan

Dalam forum itu, Nasaruddin juga menyoroti pencapaian Indonesia dalam bidang kesetaraan gender melalui pendekatan agama.

Banyak institusi pendidikan berbasis agama yang aktif mendorong partisipasi perempuan di berbagai sektor.

“Gerakan perempuan Islam di Indonesia adalah salah satu yang paling progresif di dunia Muslim,” ucapnya dengan bangga.

Baca Juga: Ekoteologi Berbasis Asmaul Husna, Menag Datangkan 1.000 Dosen Bahasa Arab dari Mesir Mengajar di Pesantren 

Ekoteologi: Iman yang Peduli Bumi

Salah satu gagasan terobosan yang disampaikan Nasaruddin adalah ekoteologi.

Pemikiran teologis yang menempatkan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari ibadah.

Ia menekankan bahwa krisis ekologi bukan hanya soal teknologi, tapi krisis spiritual dan cara pandang manusia terhadap alam.

“Menanam pohon itu ibadah. Sebuah cinta nyata kepada Sang Pencipta dan ciptaan-Nya,” katanya. Ia menambahkan bahwa Kemenag telah menjalankan program penanaman pohon di madrasah, rumah ibadah, dan kantor-kantor sebagai bentuk dakwah ekologis.

Baca Juga: Cerdas tanpa Cinta itu Bahaya! Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) segera Diluncurkan Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama

Membangun Dialog Abrahamik Global

Sebagai penutup, Menag mengutip Surat Al-Baqarah ayat 62, menegaskan bahwa keselamatan dan kasih Tuhan tak terbatas hanya pada satu agama.

“Kita semua adalah anak-anak Abraham. Mari bersatu untuk mewujudkan dunia yang lebih damai dan berkeadilan,” tutupnya.

Pesan-pesan tersebut mendapat apresiasi tinggi dari para tokoh lintas iman yang hadir.

Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai mercusuar moderasi beragama dan harmoni global di tengah dunia yang terus bergolak. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Georgetown University #Kurikulum Cinta #Menag Nasaruddin Umar #Ekoteologi #toleransi beragama #moderasi beragama