Jawa Pos Radar Lawu - Kardinal Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta, menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam Konklaf Pemilihan Paus yang akan berlangsung di Vatikan. Konklaf ini digelar untuk memilih pengganti Paus Fransiskus yang wafat pada 21 April 2024.
Pemungutan suara dijadwalkan dimulai pada Rabu, 7 Mei 2024, setelah para kardinal dari seluruh dunia berkumpul di Roma.
Kardinal Suharyo tiba di Roma pada Minggu pagi, (4/5), menggunakan penerbangan transit melalui Doha. Ia disambut hangat oleh Duta Besar RI untuk Vatikan, Trias Kuncahyono, dan beberapa imam Indonesia di Bandara Fiumicino, Roma.
Unggahan resmi dari Humas Keuskupan Agung Jakarta menyebutkan bahwa kedatangannya dipercepat satu hari atas permintaan Dewan Kardinal agar semua peserta Konklaf dapat berkumpul pada (5/5).
“Karena para kardinal harus sudah berkumpul pada 5 Mei untuk memulai rangkaian konklaf,” ungkap Humas Gereja Katedral Jakarta, Susyana Suwadie.
Sebelum keberangkatan, Kardinal Suharyo menyampaikan persiapannya yang sederhana kepada awak media di Wisma Keuskupan.
Sambil tersenyum, ia menunjukkan sebuah pulpen dari sakunya dan berkata, “Persiapannya membawa diri dan pulpen.”
Pada Senin, (5/5), para kardinal akan menandatangani sumpah menjaga kerahasiaan pada pertemuan resmi pukul 17.30 waktu setempat. Proses pemilihan Paus dimulai pada Rabu pagi, (7/5), dengan misa khusus di Basilika Santo Petrus.
Sore harinya, para kardinal akan memulai prosesi menuju Kapel Sistina, mengucap sumpah, dan memulai pemungutan suara.
Siapakah Sosok Ignatius Suharyo?
Baca Juga: Beda Nasib, Gaji 13 Pensiunan PNS 2025 Diprediksi Bisa Molor? Ini Bocoran dari Menkeu RI Sri Mulyani
Lahir di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, pada 9 Juli 1950, Kardinal Ignatius Suharyo awalnya bercita-cita menjadi polisi. Namun, jalan hidupnya berubah setelah bertemu seorang pastor yang menginspirasi dirinya untuk masuk Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, pada 1961.
Ia melanjutkan pendidikan di Seminari Tinggi Santo Paulus, Yogyakarta, dan ditahbiskan sebagai imam diosesan pada 26 Januari 1976.
Tahun yang sama, Suharyo dikirim ke Roma untuk melanjutkan studi di Universitas Urbaniana, di mana ia meraih gelar doktor Teologi Biblis pada 1981. Usai kembali ke Indonesia, ia mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Kateketik Pradnyawidya, Yogyakarta, hingga 1991.
Pada 1997, Paus Yohanes Paulus II menunjuknya sebagai Uskup Agung Semarang, dan pada 2010, ia menjadi Uskup Agung Jakarta menggantikan Kardinal Julius Darmaatmadja.
Kemudian, pada 1 September 2019, Paus Fransiskus mengangkat Suharyo menjadi kardinal, menjadikannya satu-satunya wakil Indonesia dalam Konklaf kali ini.
Dalam sebuah kesempatan, Suharyo menegaskan bahwa kehadirannya bukan sekadar representasi, tetapi juga bentuk tanggung jawab besar untuk melibatkan suara Asia Tenggara dalam pemilihan Paus.
Di sisi lain, setibanya di Roma, kiprah Suharyo memimpin misa Paskah bersama komunitas IRRIKA (Ikatan Rohaniwan-wati Kota Abadi) dan PODI (Persekutuan Oikoumene di Italia).
Dalam misa itu, Suharyo memberikan sambutan dan pesan rohani sebelum memberikan berkat penutup. Kehadirannya memberikan penguatan spiritual bagi komunitas diaspora Indonesia di Italia.
Bah kan dibalik itu, Kardinal Suharyo dikenal sebagai figur yang rendah hati dan memiliki wawasan luas dalam pelayanan gereja. Pada 2017, ia merilis buku biografi berjudul “Terima Kasih, Baik, Lanjutkan”, yang menggambarkan perjalanan hidup dan pelayanannya selama dua dekade sebagai uskup.
Dimana, buku ini telah menjadi inspirasi hidup bagi umat Katolik se-Indonesia.
Dengan pengalaman panjang dalam teologi dan kepemimpinan gereja, Kardinal Suharyo membawa harapan besar bagi Indonesia dan Asia Tenggara dalam Konklaf Pemilihan Paus.
Meski peluang untuk dipilih sebagai Paus tergolong kecil, kehadirannya di Vatikan menunjukkan dedikasi dan komitmennya untuk memperjuangkan nilai-nilai universal gereja. (okta)