Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Harga Barbie dan Hot Wheels Terancam Naik, Gara-Gara Tarif Baru dari AS!

AA Arsyadani • Sabtu, 3 Mei 2025 | 11:54 WIB
Hot Wheels terbaru 2024. (DIMAS PRAWIRA/RADAR LAWU)
Hot Wheels terbaru 2024. (DIMAS PRAWIRA/RADAR LAWU)

Jawa Pos Radar Lawu — Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat (AS) berpotensi menaikkan harga sejumlah produk mainan.

Seperti Barbie dan Hot Wheels.

Mainan-mainan ini merupakan produk ekspor unggulan dari Indonesia ke pasar AS.

Dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta (30/4), Sri Mulyani menjelaskan bahwa Barbie adalah salah satu boneka paling banyak diproduksi di Indonesia.

Tepatnya oleh PT Mattel Indonesia di Cikarang, Jawa Barat.

Pabrik ini bahkan dikenal sebagai produsen Barbie terbesar di dunia.

Produksi tembus lebih dari 85 juta boneka dan aksesoris pada 2021.

Hot Wheels, miniatur mobil yang juga populer di seluruh dunia, turut diproduksi oleh Mattel.

Meski sebagian produksinya berbasis di Malaysia.

“Waktu saya bertemu dengan Menteri Keuangan AS di Washington, topik Barbie ikut dibahas karena mereka tahu mayoritas produksinya dari Indonesia,” ujar Sri Mulyani.

Ia menyebut, tarif baru yang diberlakukan AS berpotensi membuat harga mainan tersebut naik di pasar global.

Termasuk bagi AS yang merupakan konsumen utama.

Hal ini bisa berdampak langsung pada momen-momen besar seperti Natal dan Black Friday, ketika permintaan terhadap mainan meningkat tajam.

“Setiap nenek ingin kasih hadiah untuk cucunya. Kalau harga naik karena retaliasi tarif, ini akan berpengaruh ke masyarakat luas,” jelasnya.

Sri Mulyani juga menegaskan pentingnya menjaga daya saing sektor manufaktur ekspor padat karya seperti mainan, pakaian jadi, dan alas kaki.

Produk seperti Converse, Adidas, dan Nike turut diproduksi di Indonesia.

Artinya, gangguan pada rantai pasok bisa berpengaruh besar terhadap lapangan kerja dalam negeri.

Menurutnya, tarif-tarif tinggi bukan hanya memukul barang konsumsi, tapi juga bisa merugikan sektor industri dan pekerja di negara eksportir seperti Indonesia. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#menteri keuangan #boneka barbie #amerika serikat (AS) #Hot Weels #sri mulyani