Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Cerita Misteri Vila Angker Gunung Lawu Part 11, Petaka Perjamuan Makan

Saestu Saget • Jumat, 18 April 2025 | 03:45 WIB
Cerita misteri vila angker di Gunung Lawu.
Cerita misteri vila angker di Gunung Lawu.

Cerita Misteri Keanehan dalam Perjamuan Makan di Vila Angker Gunung Lawu 

“Duduk, Ti.” Pak Cokro sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.

“Dicoba dong tehnya,” kata Bu Sinta, “Kalau urusan bikin teh, aku berani saingan sama kamu, Ti. Hahaha...”

Sekilas Wati ikut tertawa, mengangguk lalu menyeruput cangkir teh keramik mewah berisi teh di hadapannya.

Hangat. Sedikit beraroma kayu manis dan melati.

Rasa teh yang kuat menjalari lidah hingga langit-langit mulut. 

Manis yang tidak berlebihan. Pas. Seimbang dan menyegarkan.

“Hummm...” desah Wati. “Enak, Bu. Ini teh paling enak yang pernah Wati minum.”

“Ah kamu berlebihan, Ti.” Bu Sinta tersipu, menyapu angin di depan wajahnya.

Suasana yang mencair membuat lidah Wati tergoda bertanya.

“Pak, kalau boleh tahu, gimana caranya Bapak bisa sukses? Wati pengen kayak bapak.”

Bu Sinta mengangkat alis. Tangannya mendadak berhenti bergerak.

Arsi menoleh dengan tatapan geli.

“Iuhhh... Eh Wati. Kamu pembantu ya. Ngapain sok kepo? Nggak usah mimpi deh bisa kaya raya kayak Papa,” katanya dengan nada sinis.

Sekilas Pak Cokro mengangkat tangan, satu gerakan kecil. Menginterupsi. 

Cukup untuk membuat semua diam. “Pertanyaan bagus,” katanya pelan, lalu mulai bercerita.

Tentang bagaimana dulu ia menjual semen dari kampung ke kota. Tentang temannya yang tiba-tiba meminjamkan modal. 

Tentang proyek besar pertama mereka yang sukses besar setelah hampir bangkrut. Tentang kerja keras dan, katanya, doa ibu yang tak pernah putus.

Juga tentang peran perempuan yang kini jadi istri. Wati mendengarkan dengan mata berbinar.

“Sekarang toko bapak sudah ada 6. Besar-besar semua. Kalau bapak bisa buka cabang ke tujuh. Nanti Bapak kasih Wati sepetak tanah di belakang Villa. Mau?”

Jantung Wati berdebar. Ia tak tahu harus berkata apa. Hanya bisa tersenyum dan mengangguk.

“Mau banget, Pak.” Ia mengangkat cangkir tehnya lagi. Dingin sedikit, tapi masih ingin ia habiskan.

Namun saat cairan itu menyentuh lidahnya—

Wati terdiam. Dahinya berkerut. Bukan teh. Bukan lagi aroma melati dan kayu manis.

Anyir. Asin. Seperti darah basi. Ia menahan mual. Seperti rambut semalam. (bersambung)

Editor : Nur Wachid
#gunung lawu #vila angker #cerita misteri