Jawa Pos Radar Lawu - Pemkab Lumajang berencana memberikan kendaraan operasional baru bagi seluruh kepala desa di wilayahnya.
Total sebanyak 198 unit Honda PCX 160 akan dibagikan untuk menggantikan motor dinas lama yang sudah tidak layak pakai.
Pengadaan Honda PCX 160 akan direalisasikan melalui perubahan APBD 2025 dan dananya berasal dari efisiensi anggaran perjalanan dinas serta pemangkasan belanja ATK.
Secara fitur dan performa, Honda PCX 160 memang menarik. Motor ini dibekali mesin 156,9 cc berteknologi eSP+, bertransmisi otomatis V-Matic, serta dilengkapi fitur-fitur canggih.
Seperti Smart Key System, panel digital TFT, hingga Honda Selectable Torque Control (HSTC).
Dari segi tampilan, motor ini juga menawarkan kesan premium, cocok untuk menunjang citra profesional kepala desa.
Baca Juga: Asal Usul Royal Enfield Classic 500 yang Disita dari Ridwan Kamil: Lahir di Inggris, Besar di India
Namun, di tengah rencana ini, muncul pertanyaan dari sebagian publik: apakah Honda PCX 160 benar-benar cocok untuk penggunaan di wilayah pedesaan?
Pasalnya, motor ini menyandang status sebagai skutik maxi yang memang lebih dirancang untuk kenyamanan di jalanan perkotaan.
Di sisi lain, sejumlah keluhan teknis terhadap PCX 160 sempat viral di media sosial, terutama yang berkaitan dengan crankcase mesin yang rawan pecah.
Baca Juga: MG Cyber X: Mobil SUV Boxy Bawa Platform E3 Modular, Gayanya Mirip Land Rover Defender
Masalah ini ramai dibahas dalam komunitas pengguna Honda PCX 160 di Facebook.
Dikutip dari wawancara gridoto.com, Sena Ponda, pemilik bengkel Synergy-HSR sekaligus pengguna PCX 160 asal Depok mengungkapkan bahwa engine hanger pada PCX 160 dipasang di bagian atas mesin.
Berbeda dari PCX 150 yang menggunakan mounting bawah. Akibatnya, bagian bawah mesin menjadi lebih terbuka terhadap benturan langsung dari permukaan jalan.
Ditambah lagi, pelek belakang ukuran 13 inci yang digunakan Honda PCX 160 membuat motor ini memiliki ground clearance hanya 135 mm—lebih rendah 2 mm dari PCX 150.
Artinya, jarak antara mesin dengan tanah menjadi lebih sempit. Bila motor membawa beban berat atau melintasi jalan berbatu atau bergelombang seperti di banyak desa, risiko crankcase terbentur dan pecah menjadi lebih besar.
Masalah makin serius jika benturan ini membuat crankcase bolong tanpa disadari pengendara.
Karena dalam kondisi itu, oli pelumas mesin bisa bocor, menyebabkan kerusakan parah hingga turun mesin.
Meski begitu, banyak pengguna menyebut bahwa selama motor digunakan dengan hati-hati dan tidak membawa beban berlebih, PCX 160 tetap nyaman dikendarai.
Sebagai alternatif, beberapa bengkel menyarankan pemasangan pelindung crankcase (undercover) atau modifikasi suspensi untuk mengurangi risiko benturan. (cor)
Editor : Andi Chorniawan