Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Dampak Perang Dagang AS-China, iPhone 16 Jadi Lebih Mahal di Indonesia?

AA Arsyadani • Senin, 14 April 2025 | 14:45 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping

Jawa Pos Radar Lawu - Perang dagang antara Amerika Serikat dan China telah mencapai puncaknya dengan saling memberlakukan tarif impor yang signifikan.

Presiden AS, Donald Trump, menetapkan tarif sebesar 125 persen pada barang-barang impor dari China yang mulai berlaku pada 9 April 2025.

Sebagai respons, China memberlakukan tarif balasan sebesar 84 persen pada produk-produk AS.

Hal ini berdampak langsung pada industri teknologi.

Terutama Apple, yang sebagian besar produknya, termasuk iPhone, diproduksi di China.

Dengan tarif impor yang tinggi, harga iPhone di pasar AS diperkirakan akan mengalami kenaikan signifikan.

Analisis dari UBS Investment Research menunjukkan bahwa model iPhone 16 Pro Max 256 GB.

Sebelumnya dijual seharga $1.199, dapat meningkat hingga $1.874, mencerminkan kenaikan sekitar 56 persen.

Meskipun Apple telah memindahkan sebagian produksinya ke negara lain seperti India dan Vietnam, mayoritas iPhone masih diproduksi di China.

Negara-negara tersebut juga dikenakan tarif, meskipun lebih rendah, dengan Vietnam menghadapi tarif 46 persen dan India 26 persen.

Peningkatan harga ini menimbulkan kekhawatiran akan penurunan permintaan konsumen terhadap produk Apple.

Selain itu, upaya untuk memindahkan produksi ke Amerika Serikat menghadapi tantangan besar.

Termasuk biaya tenaga kerja yang lebih tinggi dan kurangnya infrastruktur manufaktur yang memadai.

Membangun rantai pasokan baru di AS diperkirakan memerlukan investasi besar dan waktu yang lama.

Situasi ini mencerminkan dampak luas dari perang dagang antara AS dan China terhadap industri teknologi dan konsumen. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#produksi teknologi global #Iphone 16 #apple #Perang Dagang Amerika China