Jawa Pos Radar Lawu – Tangis pilu kembali terdengar dari keluarga korban penembakan 3 polisi saat penggerebakan judi sabung ayam di Way Kanan, Lampung.
Melda Dwi Ani, istri dari Aipda (Anumerta) Petrus Apriyanto, menyuarakan isi hatinya yang menuntut keadilan atas gugurnya sang suami dalam menjalankan tugas negara.
Dalam unggahan video viral yang disaksikan jutaan warganet melalui akun @Purnomobelajarbaik, Melda tampak menggendong bayinya sambil menyampaikan permohonan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto, Kapolri, Panglima TNI, dan Kompolnas.
Didampingi kedua orang tuanya, Melda tampak menangis sembari mencurahkan isi hatinya.
"Saya selaku istri korban memohon kepada Presiden Prabowo Subianto, Kapolri, Panglima TNI, dan Kompolnas untuk menggelar sidang militer terbuka agar disaksikan seluruh rakyat Indonesia. Kami hanya ingin keadilan," ujar Melda lirih.
Unggahan menyayat hati ini telah disukai lebih dari 65,7 ribu kali, dengan 1.281 dibagikan dan 1.293 komentar, sebagian besar berisi dukungan dan doa dari publik.
Kompolnas Tegaskan: Kapolsek Lusiyanto dan Anggota Tidak Terlibat Setoran Judi
Curahan hati Melda muncul di tengah maraknya narasi liar yang menyudutkan korban. Bahkan beredar isu bahwa Kapolsek Negara Batin, AKP (Anumerta) Lusiyanto, bersama Aipda Petrus dan Briptu (Anumerta) M. Ghalib Surya Ganta, disebut-sebut menerima setoran dari praktik judi sabung ayam.
Namun, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) membantah tegas isu tersebut.
"Pak Kapolsek itu bolak-balik menegur Peltu Lubis untuk menghentikan sabung ayam. Karena terus diingatkan, Lubis malah mencoba menyogok, tapi tegas ditolak," ujar Komisioner Kompolnas, Mohammad Choirul Anam, dalam keterangan resminya, Minggu (23/3/2025), dikutip Radar Lawu.
Anam juga mengungkapkan hasil pengecekan langsung ke rumah almarhum AKP Lusiyanto.
Ia menyebut rumah Kapolsek itu sangat sederhana, jauh berbeda dari rumah mewah milik Peltu Lubis dan Kopka Basarsyah, dua oknum TNI yang kini jadi tersangka pelaku penembakan.
Tuntutan Keadilan dan Transparansi Penegakan Hukum
Kompolnas menegaskan bahwa ketiga korban gugur dalam tugas suci memberantas praktik perjudian ilegal. Oleh karena itu, pihaknya meminta publik tidak terprovokasi narasi tak berdasar.
"Jangan digiring-giring seperti itu. Ini ada tiga petugas negara yang meninggal saat menjalankan tugas. Itu fakta yang harus dihormati," tegas Anam.
Peristiwa tragis ini terjadi saat penggerebekan arena sabung ayam pada Jumat (17/3/2025) di Kampung Karang Manik, Kecamatan Negara Batin, Way Kanan.
Keluarga korban kini menuntut transparansi hukum, termasuk permintaan agar sidang terhadap pelaku dilakukan secara militer dan terbuka untuk publik. (kid)
Editor : Nur Wachid