Jawa Pos Radar Lawu - Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, dikenal sebagai sosok ulama, intelektual, dan pemimpin yang memiliki selera seni luar biasa.
Salah satu kecintaannya yang jarang dibahas adalah ketertarikannya pada musik klasik, terutama karya Beethoven.
Kecintaan Gus Dur terhadap musik klasik bermula saat ia masih kecil.
Dalam Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid (2003), Greg Barton mengisahkan bahwa Gus Dur sering dititipkan kepada Williem Iskandar Bueller.
Dia seorang Jerman yang menetap di Indonesia dan bersahabat dengan ayahnya, KH. Wahid Hasyim.
Di rumah Bueller, Gus Dur kecil diperkenalkan pada berbagai musik klasik dari piringan hitam yang diputar melalui gramofon.
Sejak saat itu, ia jatuh cinta pada karya-karya besar seperti Simfoni No. 9 dari Beethoven, Eine Kleine Nachtmusik dari Mozart, dan Konserto Brandenburg dari Bach.
Koleksi Musik yang Berarti
Sebagai pecinta musik klasik, Gus Dur tak hanya menikmati lagu-lagu tersebut, tetapi juga mengoleksi berbagai rekaman.
Bahkan, ia memiliki kepekaan luar biasa dalam membedakan karakteristik permainan setiap konduktor dalam membawakan sebuah simfoni.
Theodore Zeldin, seorang sejarawan asal Inggris, dalam bukunya The Hidden Pleasures of Life (2015).
Menggambarkan Gus Dur sebagai ulama yang mampu mengenali konduktor simfoni Beethoven hanya dengan mendengarkan rekamannya.
Ini menunjukkan betapa serius dan mendalamnya penghayatan Gus Dur terhadap musik klasik.
Lebih Menyesal Kehilangan Beethoven daripada Jabatan
Saat Gus Dur dilengserkan dari jabatannya sebagai Presiden RI pada tahun 2001, ia meninggalkan Istana Negara tanpa banyak penyesalan.
Namun, ada satu hal yang ia sesali: kehilangan koleksi 27 rekaman Simfoni No. 9 Beethoven yang tertinggal di Istana.
Ia pernah berkata, “Kehilangan jabatan presiden bukan apa-apa buat saya. Saya lebih menyesal karena saya kehilangan 27 rekaman Simfoni No. 9-nya Beethoven.”
Pernyataan ini mencerminkan filosofi kepemimpinan Gus Dur.
Baginya, kekuasaan hanyalah alat, bukan tujuan utama.
Ia lebih menghargai nilai-nilai yang lebih esensial dalam hidup, termasuk seni dan kebebasan berpikir.
Musik sebagai Teman Setia
Bahkan ketika kesehatannya memburuk setelah mengalami stroke kedua pada 2003, Gus Dur tetap setia pada musik klasik.
Saat ia mulai sadar kembali setelah beberapa hari tak sadarkan diri, hal pertama yang ia minta adalah tape recorder untuk memutar simfoni Beethoven.
Musik bukan sekadar hiburan bagi Gus Dur, tetapi juga menjadi bagian dari jiwanya.
Baginya, musik adalah bahasa universal yang melampaui batas agama, budaya, dan ideologi.
Harmoni Kehidupan dalam Nada dan Kepemimpinan
Kisah Gus Dur dan musik klasik memberikan pelajaran berharga bahwa kepemimpinan tidak selalu harus diiringi dengan ambisi kekuasaan.
Justru, seorang pemimpin sejati adalah mereka yang mampu tetap rendah hati.
Serta memiliki kecintaan terhadap ilmu dan seni, serta tidak terjebak dalam gemerlap politik.
Kecintaan Gus Dur terhadap Beethoven bukan sekadar tentang musik.
Juga merefleksikan sikap hidupnya.
Gus Dur senantiasa menghargai kebebasan, integritas, dan nilai-nilai kemanusiaan. (fin)
Editor : Andi Chorniawan