Jawa Pos Radar Lawu - Aktor Morgan Oey kembali ke layar lebar dengan peran utama dalam film horor misteri terbaru Indonesia, Pernikahan Arwah (The Butterfly House).
Disutradarai oleh Paul Agusta, film ini menghadirkan cerita yang mengangkat tradisi ghost marriage—pernikahan arwah dalam budaya Tionghoa—sebagai inti dari konflik utamanya.
Morgan Oey berperan sebagai Salim, seorang pria yang harus menghadapi teror dari masa lalu keluarganya saat hendak menikah dengan kekasihnya, Tasya, yang diperankan oleh Zulfa Maharani.
Keduanya terjebak dalam pusaran misteri yang mengancam nyawa mereka, sementara rahasia kelam leluhur Salim perlahan terungkap.
Sinopsis : Teror Ritual Keluarga yang Menghantui
Dalam Pernikahan Arwah, Salim dan Tasya tengah bersiap untuk pernikahan mereka. Namun, rencana bahagia itu berubah drastis setelah satu-satunya keluarga sedarah Salim, yaitu tantenya, meninggal dunia.
Salim dan Tasya pun pergi ke rumah keluarga Salim untuk mengurus pemakaman.
Di rumah tersebut, Salim diberi tanggung jawab menjalankan ritual keluarga: membakar dupa setiap hari di altar misterius.
Ritual ini bukan sekadar penghormatan kepada leluhur, tetapi juga sesuatu yang tidak bisa diabaikan—jika tidak, nyawa Salim dalam bahaya.
Keputusan mereka untuk tinggal di rumah itu memicu rangkaian kejadian mengerikan.
Arwah leluhur Salim, yang meninggal pada masa penjajahan Jepang, mulai bangkit dan meneror mereka.
Dalam ketakutan yang semakin mencekam, Tasya merasa ada sesuatu yang harus diungkap.
Ia yakin bahwa jika kebenaran di balik sejarah keluarga Salim terkuak, mereka bisa lepas dari ancaman arwah dan meninggalkan rumah itu dengan selamat.
Namun, apakah Tasya benar-benar bisa menyelamatkan Salim?
Ataukah justru mereka semakin terperangkap dalam misteri yang mengancam nyawa? Jawabannya hanya bisa ditemukan dengan menonton filmnya!
Morgan Oey dan Eksplorasi Horor Berbasis Budaya
Morgan Oey dikenal luas melalui berbagai peran di film drama dan romansa, tetapi dalam Pernikahan Arwah, ia menjajal tantangan baru dengan membintangi film horor bernuansa budaya.
Film ini menyoroti ghost marriage, sebuah tradisi kuno yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat Tionghoa.
Dalam budaya tersebut, pernikahan arwah dilakukan untuk menikahkan seseorang yang sudah meninggal dengan orang hidup atau sesama arwah agar jiwa yang telah tiada bisa ‘tenang’ dan tidak mengganggu dunia manusia.
Tradisi ini menjadi konflik utama dalam film, yang menghadirkan atmosfer mencekam dengan sentuhan kearifan lokal.
Tak hanya dari segi cerita, film ini juga memperkuat elemen budayanya melalui detail visual.
Mulai dari arsitektur rumah bergaya Tionghoa peranakan, penggunaan warna merah dan emas yang memiliki makna simbolis, hingga kupu-kupu yang kerap dikaitkan dengan konsep reinkarnasi.
Semua elemen ini semakin memperkaya latar dan mendukung suasana horor dalam film.
Dengan pendekatan seperti ini, Pernikahan Arwah mengikuti jejak film horor Asia seperti The Medium (Thailand) dan Incantation (Taiwan), yang membangun ketegangan melalui kepercayaan lokal.
Namun, dengan sentuhan khas Indonesia, film ini menawarkan pengalaman berbeda bagi penonton.
Bagi yang penasaran dengan aksi Morgan Oey dalam menghadapi teror mistis, Pernikahan Arwah bisa menjadi pilihan menarik di bioskop.
Apakah kamu siap untuk menyaksikan horor yang terinspirasi dari tradisi nyata? (*)