Jawa Pos Radar Lawu – Isu bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite yang dioplos menjadi Pertamax membuat geram banyak pihak, termasuk Rahmadi (50), seorang driver ojek online (ojol).
Pria yang sehari-hari mengandalkan sepeda motor untuk mencari nafkah ini mengecam keras tindakan tersebut yang diduga melibatkan sejumlah pejabat tinggi.
“Gila itu orang ya, bisa segitunya mainin BBM kayak gitu,” ujar Rahmadi dengan nada emosi saat ditemui awak media di SPBU Vivo, kawasan Mampang, Jakarta Selatan.
Saat itu, Rahmadi tengah mengantri guna mengisi angin pada ban motornya.
Rahmadi menyebut tindakan tersebut sangat merugikan rakyat kecil yang sudah berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ia menegaskan, tindakan tersebut tidak hanya mencerminkan keserakahan, tetapi juga melupakan prinsip moral.
“Kalau boleh saya katakan, itu brengsek tuh orang. Emang kaga (enggak) takut sama yang kuasa? Hukum tabur tuai itu pasti ada. Ya enggak di dia, ntar di anak cucunya ya kan,” ujar Rahmadi.
Buntut isu yang mencuat usai Kejagung menetapkan beberapa tersangka dalam kasus dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang di PT Pertamina Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) periode 2018-2023.
Selanjutnya, Rahmadi menyampaikan desakan kepada pemerintah dan Pertamina untuk segera memperbaiki sistem pengawasan dan tata kelola BBM agar kasus serupa tidak terus berulang.
Menurutnya, transparansi dan kejujuran adalah kunci untuk membangun bangsa yang lebih baik.
“Ya perbaiki lagi kinerjanya. Kalau mau jadi bangsa ini jadi bangsa yang baik, biar maju ke depannya tercapainya Indonesia Emas itu ya harus jujur sama rakyat. Kasihan rakyat kecil.
Kita sudah susah-susah bayar pajak segala macam tahu-tahunya semuanya dimainin sama orang di atas semua, pejabat-pejabat semua,” tegas Rahmadi.
Bahkan, tak senggan ia mengingatkan bahwa Indonesia sebagai negara kaya seharusnya mampu menyediakan pelayanan publik yang adil dan transparan tanpa perlu merugikan rakyat kecil demi kepentingan pribadi.
Kasus dugaan korupsi dalam pengoplosan BBM menjadi pengingat pentingnya integritas dan tanggung jawab moral para pejabat publik.
Rakyat berharap, langkah tegas dari Kejaksaan Agung dapat menjadi awal dari perbaikan tata kelola energi di Indonesia.
“Ini negara kaya raya bisa dimainin kayak gitu. Rakyat susah semua, mereka enak-enakan. Makan gaji, difasilitasi segala macam, masih saja mainin uang rakyat kayak gitu,” tutup Rahmadi penuh kekesalan. (okta)
Editor : Riana M.