Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Starbucks PHK Massal 1.100 Karyawan dalam Restrukturisasi Terbesar Sepanjang Sejarah, Hal Ini Jadi Penyebabnya

Oktaviani Sindy • Rabu, 26 Februari 2025 | 22:55 WIB
Starbucks PHK 1.100 karyawan dalam restrukturisasi terbesar, fokus pada efisiensi operasional di tengah ketegangan dengan serikat pekerja.
Starbucks PHK 1.100 karyawan dalam restrukturisasi terbesar, fokus pada efisiensi operasional di tengah ketegangan dengan serikat pekerja.

Jawa Pos Radar Lawu – Starbucks mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 1.100 karyawan dalam upaya restrukturisasi terbesar sepanjang sejarah perusahaan.

Langkah ini diumumkan pada Senin (24/2) lalu dan akan mencakup penutupan ratusan posisi pekerjaan yang saat ini kosong.

CEO Starbucks, Brian Niccol, menjelaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan menyederhanakan struktur perusahaan.

“Tujuan kami adalah untuk beroperasi lebih efisien, meningkatkan akuntabilitas, mengurangi kompleksitas, dan mendorong integrasi yang lebih baik,” tulis Niccol dalam suratnya kepada karyawan, dikutip The Guardian.

Restrukturisasi ini mencakup 1.100 karyawan dari total 16.000 staf korporat Starbucks di seluruh dunia. Namun, pekerja di gudang, pemanggangan, dan toko tidak terdampak kebijakan ini.

Selanjunya, Niccol pertama kali menyampaikan rencana PHK pada Januari 2025 sebagai bagian dari strategi restrukturisasi perusahaan.

“Ukuran dan struktur kami dapat memperlambat kami, dengan terlalu banyak lapisan, manajer tim kecil, dan peran yang berfokus terutama pada koordinasi pekerjaan,” ungkapnya.

Selain PHK, perusahaan juga akan fokus pada penyempurnaan layanan toko, pengurangan item menu, dan pengembangan algoritma pemesanan baru.

Ketegangan dengan Serikat Pekerja

Kebijakan ini muncul di tengah ketegangan antara Starbucks dan serikat pekerja, Starbucks Workers United.

Sejak 2021, serikat telah berhasil membentuk lebih dari 500 unit serikat pekerja di seluruh AS dengan lebih dari 10.500 anggota.

Namun, negosiasi kontrak serikat dengan perusahaan belum mencapai kesepakatan hingga akhir 2024, yang memicu aksi mogok kerja selama musim liburan.

Para pekerja menuntut perbaikan ekonomi dan mengkritik paket kompensasi CEO Brian Niccol, yang menerima sekitar $96 juta dalam empat bulan pertama masa jabatannya.

Langkah PHK ini diharapkan membantu Starbucks mempercepat transformasi operasionalnya.

“Kami memahami keputusan ini sulit, tetapi ini adalah langkah yang diperlukan untuk memastikan masa depan Starbucks yang lebih kuat,” tulis Niccol dalam suratnya. (okta)

Editor : Riana M.
#restrukturisasi #starbucks #ceo #phk massal #pemutusan hubungan kerja