Jawa Pos Radar Lawu – Selain dikenal sebagai ulama, Hamka juga merupakan sastrawan produktif.
Hari ini, 117 tahun yang lalu, persisnya 16 Februari 1908, Buya Hamka terlahir ke dunia.
Karya-karyanya, seperti Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939), memiliki nuansa keislaman yang kuat serta menggambarkan realitas sosial masyarakat pada masanya.
Dikutip dari laman Ensiklopedia Sastra Indonesia, Buya Hamka banyak terinspirasi oleh sastra Arab dan Eropa.
Terutama dari karya-karya Musthafa Luthfi al-Manfaluthi dan Alphonse Karr.
Pengaruh ini tampak jelas dalam gaya penulisannya yang puitis dan menyentuh.
Melalui novelnya, Hamka tidak hanya menghadirkan cerita cinta dan tragedi.
Tetapi juga menyampaikan kritik terhadap adat yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Novel-novelnya diterima dengan baik di Indonesia dan Malaysia, bahkan dicetak ulang di Malaysia pada tahun 1960-an.
Karya-karyanya tidak hanya bernilai sastra, tetapi juga menjadi alat dakwah yang menyampaikan pesan moral dan keislaman dengan halus.
Buya Hamka menjadi salah satu pelopor sastra Islam di Indonesia. (fin)
Editor : Mizan Ahsani