Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Status Keracunan Massal di Hajatan Pernikahan Sleman Naik Jadi KLB, Tunggu Tanda Tangan Bupati

Nur Wachid • Selasa, 11 Februari 2025 | 04:08 WIB
Keracunan massal di Sleman.
Keracunan massal di Sleman.

Jawa Pos Radar Lawu – Kasus keracunan massal di acara pernikahan di Krasakan, Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Sleman, semakin serius.

Jumlah korban terus bertambah, Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyatakan status Kejadian Luar Biasa (KLB) bisa segera ditetapkan, tinggal menunggu persetujuan Bupati.

Plt. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Sleman, Dini Melani, mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan nota dinas ke Bupati Sleman.

Jika status KLB disetujui, maka korban bisa mendapatkan jaminan kesehatan melalui skema jaring pengaman sosial.

“Kasus ini tidak bisa dicover BPJS, tetapi nanti rumah sakit bisa mengklaim biaya perawatan kepada Dinas Kesehatan,” jelas Dini, Senin (10/2/2025) dilansir Radar Lawu dari Radar Jogja.

“Uji laboratorium masih berlangsung, hasilnya baru bisa diketahui dalam dua hingga tiga hari ke depan,” katanya.

Guna menangani lonjakan korban, Puskesmas Tempel I telah membuka posko kesehatan di rumah warga, sementara posko laporan juga didirikan di kapanewon.

Tim Field Epidemiology Training Program (FETP) telah diterjunkan untuk memantau kondisi pasien dan memastikan penanganan lebih lanjut.

Baca Juga: Bikin Heboh! 5 Pernyataan Ratu Sedunia yang Viral, Singgung Soekarno hingga 9 Naga

Menurut Kepala Puskesmas Tempel I, Diana Kusumawati, mayoritas korban mengalami gejala diare, demam, dan lemas setelah menghadiri acara hajatan tersebut.

“Jumlah korban awalnya hanya 26 orang, tapi terus meningkat hingga mencapai 160 orang,” ungkapnya.

Dugaan awal mengarah pada makanan yang disajikan dalam hajatan, terutama siomay, es krim, dan krecek, yang dicurigai sebagai sumber kontaminasi.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Sukaptana, yang turun langsung ke lokasi, menyatakan bahwa banyak korban mengeluhkan pusing setelah mengonsumsi siomay.

“Kami telah berbicara dengan pemilik hajatan dan memastikan bahwa makanan berasal dari katering. Kami juga akan mengecek langsung tempat produksi katering tersebut,” ujar Sukaptana.

Sementara itu, Panewu Tempel, Agung Dwi Maryoto, menyebut bahwa hajatan tersebut awalnya mengundang sekitar 200 tamu, tetapi jumlah tamu yang hadir diperkirakan mencapai 500 orang.

“Mayoritas korban adalah warga setempat. Kami sudah berkoordinasi dengan penyelenggara acara dan pihak katering untuk memastikan penyebab pasti kejadian ini,” tambahnya.

Sebanyak 39 korban masih menjalani rawat inap, sementara 14 orang dalam observasi, dan 107 lainnya menjalani rawat jalan.

Korban dengan gejala berat seperti diare parah, demam tinggi, dan dehidrasi telah dirujuk ke rumah sakit.

“Lansia dan pasien dengan penyakit penyerta sudah kami rujuk sejak awal,” jelas Diana.

Dinas Kesehatan Sleman akan mengevaluasi situasi keracunan massal hajatan pernikahan dalam 48 jam ke depan. (kid)

Editor : Nur Wachid
#pernikahan #keracunan massal #update #hajatan #sleman #siomay