Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Korban Keracunan Massal Hajatan di Sleman Bertambah Jadi 160 Orang, Katering Jadi Sorotan

Ockta Prana Lagawira • Selasa, 11 Februari 2025 | 03:52 WIB
Petugas medis memberikan perawatan kepada warga korban keracunan massal di posko kesehatan di Krasakan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Minggu 9 Februari 2025.
Petugas medis memberikan perawatan kepada warga korban keracunan massal di posko kesehatan di Krasakan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Minggu 9 Februari 2025.

Jawa Pos Radar Lawu – Kasus keracunan massal usai hajatan pernikahan di Krasakan, Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Minggu (9/2/2024) semakin mengkhawatirkan.

Jumlah korban kini bertambah menjadi 160 orang, dengan puluhan orang harus menjalani perawatan intensif.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Cahya Purnama, memastikan pihaknya telah bergerak cepat menangani situasi ini.

Tim Field Epidemiology Training Program (FETP) dan tenaga kesehatan telah turun ke lapangan untuk menangani korban.

"Puskesmas Tempel 1 sudah buka posko kesehatan di rumah warga. Lintas sektor juga sudah buka posko laporan di kapanewon," kata Cahya.

Menurut Kepala Puskesmas Tempel I, Diana Kusumawati, jumlah korban awalnya hanya 26 orang.

Namun angka itu terus meningkat setelah posko kesehatan dibuka di depan Klinik Pratama H.M. Sosromiharjo.

"Mereka menghadiri satu hajatan yang sama. Mayoritas mengalami diare, demam, dan lemas," ujarnya.

Dari 160 korban, sebanyak 39 orang menjalani rawat inap, 14 orang dalam observasi, dan 107 orang menjalani rawat jalan.

Pasien dengan kondisi ringan disarankan mengonsumsi makanan lunak dan mudah dicerna.

Katering Jadi Sorotan, Sampel Makanan Diperiksa
Tim kesehatan telah mengambil sampel makanan untuk diuji.

Termasuk siomay, es krim, dan krecek, yang diduga menjadi penyebab keracunan.

Sementara itu, Panewu Tempel, Agung Dwi Maryoto, mengungkapkan bahwa hajatan tersebut awalnya mengundang 200 tamu.

Tetapi jumlah pengunjung diperkirakan mencapai 500 orang.

"Mayoritas korban memang warga kami. Kami sudah berkomunikasi dengan pemilik hajatan dan diketahui bahwa makanan berasal dari katering," kata Agung, Senin (10/2/2025). 

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Sukaptana, yang meninjau langsung posko kesehatan, memastikan bahwa pemerintah kabupaten akan menanggung seluruh biaya pengobatan.

Termasuk bagi mereka yang telah membayar secara mandiri.

"Saya tanya pasien, banyak yang makan siomay. Ada yang langsung pusing setelah makan," ungkap Sukaptana.

Ia juga berencana untuk meninjau langsung katering yang menyuplai makanan dalam hajatan tersebut guna memastikan penyebab pasti insiden ini.

Sejumlah korban yang mengalami gejala berat seperti nyeri otot, demam tinggi yang tak kunjung turun, diare parah, serta dehidrasi, telah dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.

"Lansia sudah kami rujuk dari awal. Begitu juga pasien dengan komorbid yang tidak bisa kami tangani," jelas Diana.

Posko kesehatan akan dievaluasi dalam 2 x 24 jam sejak kejadian. Jika jumlah kasus menurun, posko di Klinik Pratama H.M. Sosromiharjo akan segera ditutup.

"Pemeriksaan sampel makanan membutuhkan waktu sekitar dua hari. Namun, setelah rapat tadi, kami upayakan bisa lebih cepat," tambahnya.
Kasus ini menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang.

Pemerintah daerah berjanji akan mengusut tuntas kejadian keracunan massal Sleman ini dan memastikan keamanan pangan dalam acara hajatan ke depannya. (ota)

Editor : Nur Wachid
#penyebab #kronologi #keracunan massal #hajatan #sleman #korban