Jawa Pos Radar Lawu - Sebuah peristiwa unik terjadi dalam konser Kantata Takwa Samsara di Parkir Timur Senayan, Jakarta, pada Senin malam, 6 Juli 1998.
Ribuan penonton yang memadati area konser tiba-tiba berubah histeris.
Mereka berusaha merangsek naik ke panggung untuk menyalami dan memeluk Iwan Fals.
Kerumunan yang tak terkendali ini justru menciptakan kekacauan.
Dalam situasi genting itu, bukan hanya Iwan Fals yang kerepotan.
Para musisi lainnya seperti Setiawan Djody, Sawung Jabo, Yockie Suryoprayogo, dan penyair W.S. Rendra juga dibuat kebingungan.
Massa yang semakin tak terkendali mulai melempar berbagai benda.
Seperti botol plastik, kaleng minuman, hingga benda keras lainnya ke arah panggung.
Baca Juga: Harlah ke-102 NU, Pesantren Tebuireng Rintis Klinik Kekayaan Intelektual, Pertama di Indonesia!
Melihat situasi semakin berbahaya, KH Maksum Jauhari atau yang lebih dikenal sebagai Gus Maksum turun tangan.
Kiai Nahdlatul Ulama dari Kediri itu kebetulan baru saja mengikuti Istighotsah Kubro bersama ribuan Nahdliyin di tempat yang sama.
Dengan sekali sentakan tangannya, benda-benda yang melayang ke arah panggung tiba-tiba jatuh ke tanah.
Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menahannya.
Massa yang semakin brutal tiba-tiba terhempas ke belakang, seperti diterpa angin topan.
‘’Aku tahu risikonya berat, tetapi aku tidak tega melihat Iwan ditarik-tarik tanpa daya oleh massa,” ungkap Gus Maksum dikutip dari laman Tebuireng Initiatives.
Demi menyelamatkan para musisi di panggung, beliau akhirnya mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya.
Membuat orang-orang yang terus merangsek ke panggung terjungkal tanpa beliau menyentuh mereka.
Baca Juga: Lengkap : Link Beli Tiket, Harga dan Kategori Tiket Konser Saventeen Di JIS 8 Februari 2025
Sebelum mengeluarkan kemampuannya, Gus Maksum sebenarnya telah mencoba berbagai cara untuk meredam situasi.
Ia membujuk massa agar ikut melantunkan salawat.
Berharap energi positif dapat menenangkan mereka.
Namun, ajakan tersebut tak digubris.
Bahkan, ketika Gus Maksum memperingatkan dengan nada tegas, massa justru semakin beringas.
‘’Silakan maju kalau berani!” seru Gus Maksum lantang.
Sayangnya, teriakan itu tak cukup untuk mengendalikan situasi.
Melihat kondisi semakin tidak terkendali, Gus Maksum akhirnya mengambil langkah terakhir.
Menggunakan ilmu bela dirinya untuk melindungi Iwan Fals dan kawan-kawan.
Dengan kemampuan tenaga dalamnya, ia berhasil menenangkan massa dalam hitungan detik.
Momen mistis dan penuh ketegangan ini menjadi salah satu cerita legendaris dalam sejarah konser musik di Indonesia.
Kisah keberanian Gus Maksum dalam melindungi Iwan Fals dan rekan-rekannya di atas panggung terus dikenang oleh banyak orang.
Terutama para Nahdliyin dan penggemar musik rock Indonesia.
Peristiwa ini bukan sekadar tentang konser, tetapi juga tentang keberanian, kepedulian, dan keajaiban yang melampaui batas logika.
Hingga kini, nama Gus Maksum tetap harum sebagai pendekar Pagar Nusa yang berilmu tinggi dan selalu menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.
Dikutip dari laman Pagar Nusa, Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada 8 Agustus 1944.
Sejak kecil, tanda-tanda kesaktiannya sudah mulai terlihat.
Banyak orang yang menyaksikan dan mengisahkan kehebatan beliau di masa kanak-kanak.
Salah satu cerita yang terkenal adalah kemampuannya melompat melayang dari satu tiang ke tiang lainnya di Masjid Kanigoro.
Dikabarkan pula, beliau pernah melempar seekor kuda dengan mudah, seolah hanya melempar sandal. (fin)
Editor : Mizan Ahsani