Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Donald Trump Ultimatum Vladimir Putin: Desak Segera Akhiri 'Perang Konyol' di Ukraina atau Hadapi Sanksi Berat

Oktaviani Sindy • Jumat, 24 Januari 2025 | 19:20 WIB
Donald Trump ultimatum Vladimir Putin, desak segera hentikan perang konyol di Ukraina atau hadapi sanksi ekonomi terberat dari AS dan sekutunya.
Donald Trump ultimatum Vladimir Putin, desak segera hentikan perang konyol di Ukraina atau hadapi sanksi ekonomi terberat dari AS dan sekutunya.

Jawa Pos Radar Lawu - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan tegas mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk segera mengakhiri konflik yang disebutnya sebagai "perang konyol" di Ukraina.

Donald Trump juga memperingatkan bahwa jika tuntutannya tidak diindahkan, Rusia akan menghadapi sanksi ekonomi baru yang lebih berat.

Bahkan, Trump menyatakan bahwa AS siap memberlakukan tarif tinggi dan sanksi tambahan terhadap produk Rusia yang memasuki pasar Amerika serta negara-negara sekutunya.

Langkah ini dinilai sebagai tekanan untuk mendorong perundingan damai guna menghentikan perang yang telah berlangsung sejak bulan Februari 2022.

"Cara yang mudah selalu lebih baik," ujar Trump dalam pernyataannya yang dikutip dari BBC.

Selain itu, ia juga menekankan bahwa perundingan adalah jalan paling efisien untuk menyelesaikan konflik di Ukraina dan menghindari dampak lebih buruk bagi semua pihak.

Reaksi dari Ukraina

Namun di sisi lain dari pihak Ukraina langsung merespons terhadap ancaman Trump terhadap Rusia menunjukkan beragam pendapat.

Sebagian besar warga Ukraina, khususnya di media sosial, mengungkapkan ketidakpuasan mereka.

Ancaman sanksi ekonomi dianggap tidak cukup untuk menghentikan agresi besar-besaran yang telah melanda negara mereka.

Banyak warga Ukraina menilai bahwa apa yang dibutuhkan adalah tindakan nyata, bukan sekadar retorika.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pun turut menyuarakan kebutuhan mendesak untuk pasukan penjaga perdamaian internasional.

Menurutnya, setidaknya 200.000 personel diperlukan, termasuk pasukan dari AS, untuk mencegah serangan lebih lanjut dari Rusia.

"Tanpa Amerika Serikat, tidak ada negara Eropa atau negara lain yang akan mengambil risiko memberikan perlindungan realistis terhadap Ukraina," tegas Zelensky.

Tanggapan Rusia

Sedangkan darii pihak Rusia, Wakil Duta Besar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Dmitry Polyanskiy menilai tuntutan Donald Trump sebagai respons yang terlalu menyederhanakan masalah.

Dengan tegas, ia menekankan pentingnya memahami akar penyebab krisis di Ukraina sebelum menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung.

"Ini bukan sekadar masalah mengakhiri perang. Ini pertama dan terutama masalah mengatasi akar penyebab krisis Ukraina," kata Dmitry.

Bahkan, ia juga mempertanyakan makna "kesepakatan" yang dimaksud oleh Trump, mengingat situasi yang sangat kompleks.

Ancaman Trump terhadap Rusia menunjukkan pendekatan keras dari pemerintah AS dalam menanggapi konflik Ukraina.

Namun, respons yang bervariasi dari Ukraina hingga Rusia mencerminkan tantangan besar dalam mencapai resolusi damai. (okta)

Editor : Riana M.
#perang #trump #rusia #donald trump #vladimir putin #pemerintah as #ukraina