Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Seabad Pramoedya Ananta Toer: Persahabatan dengan Gus Dur dalam Dialog Lintas Ideologi

AA Arsyadani • Sabtu, 18 Januari 2025 | 01:30 WIB

Persahabatan Gus Dur dan Pramoedya menunjukkan bahwa perbedaan ideologi bukan penghalang untuk saling menghormati dan belajar bersama.
Persahabatan Gus Dur dan Pramoedya menunjukkan bahwa perbedaan ideologi bukan penghalang untuk saling menghormati dan belajar bersama.

Jawa Pos Radar Lawu - Menjelang Seabad Pramoedya Ananta Toer, banyak kisah menarik yang bisa dikupas dari sang sastrawan terkemuka Indonesia.

Salah satunya mengenai hubungan istimewanya dengan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang mencerminkan persahabatan yang melampaui perbedaan ideologi.

Meski berasal dari latar belakang yang berbeda, keduanya menjalin hubungan yang akrab dan saling menghormati.

Baca Juga: Seabad Pramoedya Ananta Toer: Ini 5 Alasan Karyanya Tetap Relevan di Era Digital

Dikutip dari ngopibareng.id, pada Rabu, 27 Oktober 1999, Gus Dur mengundang Pramoedya ke Wisma Negara, Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta.

Dalam pertemuan itu, mereka berdiskusi tentang berbagai hal, termasuk isu kelautan.

Pramoedya, penulis novel terkenal Gadis Pantai yang diterjemahkan menjadi The Girl from the Coast, berbagi pandangannya tentang pentingnya laut bagi Indonesia.

Gus Dur pun mengapresiasi pandangan tersebut, terlebih karena saat itu kabinetnya baru saja membentuk Departemen Kelautan dan Perikanan.

Baca Juga: Seabad Pramoedya Ananta Toer, Simak 4 Fakta Sastrawan Inspirator Perlawanan yang Teguh Perjuangkan Nilai Kemanusiaan

Kala itu, menurut Pramoedya, Gus Dur banyak bertanya tentang laut dan perikanan.

Sebagai balasan, Pram menghadiahkan Gus Dur bukunya yang berjudul Kretek.

Hubungan mereka tidak hanya dibatasi oleh pertemuan tersebut.

Gus Dur bahkan sempat mengutip salah satu filosofi laut dari karya Pram: “Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati manusia semakin dangkal dan miskin.”

Baca Juga: Seabad Pramoedya Ananta Toer, Ini 5 Fakta Menarik Sastrawan asal Blora yang Karyanya Sempat Dilarang di Indonesia

Warisan Pramoedya dan Potensi Wisata Blora

Pramoedya Ananta Toer, yang lahir di Blora, Jawa Tengah, pada tahun 1925, memiliki pengaruh besar dalam dunia sastra.

Karya-karyanya, termasuk tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, telah diterjemahkan ke dalam 45 bahasa.

Baca Juga: Kembali Duduki Jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan di Kabinet Merah Putih, Inilah Profil Sosok Sakti Wahyu Trenggono

Rumah masa kecilnya di Jalan Sumbawa Nomor 40 kini menjadi Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa).

Wakil Bupati Blora, Arief Rohman, berencana menjadikan rumah tersebut sebagai museum untuk mengenang sang sastrawan.

Baca Juga: Sejarah Benteng Pendem Ngawi dan Kisah Gagalnya Pemindahan Ibu Kota Zaman Kolonial Belanda (Bagian 1)

Ia juga mengusulkan perubahan nama Jalan Sumbawa menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer, sekaligus mengadakan acara rutin untuk menarik wisatawan.

Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, mendukung penuh inisiatif tersebut.

Ia menyebut bahwa karya Pramoedya memiliki pengaruh besar terhadap hidupnya.

Upaya ini sejalan dengan visi Blora untuk memperkenalkan warisan budaya Pram kepada dunia.

Baca Juga: Presiden Prabowo Diminta Kirim Nota Protes ke Pemerintah Belanda Terkait Penelitian OCCRP

Pramoedya, Gus Dur, dan Inspirasi Bagi Generasi

Persahabatan Gus Dur dan Pramoedya menunjukkan bahwa perbedaan ideologi tidak menjadi penghalang untuk saling menghormati dan belajar satu sama lain.

Gus Dur dikenal sebagai tokoh Islam humanis yang selalu merangkul semua kalangan, sementara Pram adalah penganut realisme sosialis yang menjadikan sastra sebagai alat perjuangan.

Baca Juga: 4 Rekomendasi Buku untuk Memahami Slow Living, Stoicism, dan Ikigai Ala Gani The Yong

Kini, nilai-nilai yang mereka perjuangkan terus hidup.

Pemerintah daerah Blora pun menggandeng berbagai pihak untuk memperingati warisan intelektual Pram, menjadikannya inspirasi bagi generasi muda.

Keakraban antara Gus Dur dan Pram tidak hanya sekadar kisah persahabatan, tetapi juga pelajaran berharga tentang pentingnya dialog, penghormatan, dan kerja sama untuk memajukan bangsa. (fin)

Editor : Mizan Ahsani
#pramoedya ananta toer #Seabad #blora #gus dur #istana kepresidenan