Jawa Pos Radar Lawu - Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi strawberry.
Namun, dibalik manfaatnya, media sosial menyimpan sisi gelap yang dapat mempengaruhi kesehatan mental, khususnya bagi generasi strawberry sebagai generasi muda yang kreatif tetapi sering dianggap rapuh secara emosional.
Rhenald Kasali, penulis buku ‘Generasi Strawberry’ menjelaskan bagaimana media sosial menjadi faktor kuat penyebab gangguan kesehatan mental pada generasi ini.
Media sosial sering kali menjadi tekanan besar bagi generasi muda yang membuat mereka harus selalu terlihat sempurna sesuai dengan standar yang ada di dunia maya.
Mengapa Media Sosial Berdampak Buruk bagi Generasi Strawberry?
Ada beberapa alasan mengapa media sosial memiliki dampak negatif terhadap kesehatan mental generasi muda:
- Tekanan untuk Tampil Sempurna
Media sosial dipenuhi dengan konten yang menampilkan gaya hidup mewah, tubuh ideal, hingga hubungan yang tampak sempurna. Hal ini sering membuat generasi muda merasa minder atau tidak cukup baik.
Saat melakukan aktivitas scrolling di media sosial, secara tidak sadar mereka akan membandingkan dirinya dengan orang lain yang terlihat memiliki kehidupan yang nyaman dan bahagia, padahal itu hanya tipuan di media sosial.
- Overload Informasi Negatif
Media sosial kerap menjadi tempat beredarnya informasi negatif, seperti berita buruk, komentar jahat, atau teori konspirasi yang menakutkan.
Anak-anak yang tidak siap dengan hal ini akan memicu rasa cemas, takut, bahkan depresi yang mengganggu kesehatan mental generasi muda.
- Cyberbullying
Hal buruk yang tidak disadari oleh anak-anak maupun orang tua adalah penggunaan media sosial memperbesar resiko anak muda menjadi korban perundungan di dunia maya.
Baca Juga: Mengunjungi Stonehenge Jogja: Rute dan Tips Lengkap untuk Wisatawan
Komentar jahat atau kritik berlebihan dapat melukai mental mereka, membuat mereka merasa tidak dihargai atau bahkan terisolasi.
- Ketergantungan pada Validasi
Generasi strawberry sering kali menggantungkan rasa percaya diri mereka pada jumlah likes, komentar, atau followers. Ketika tidak mendapatkan respons yang diharapkan, mereka merasa gagal atau tidak dihargai.
Rhenald menjelaskan bahwa generasi strawberry adalah kelompok yang tumbuh di tengah kemudahan teknologi, tetapi juga dihadapkan pada tantangan emosional yang besar.
Meskipun generasi strawberry memiliki kecerdasan dan kepedulian yang tinggi terhadap isu kesehatan mental, namun tetap saja mereka adalah anak-anak yang kurang siap menghadapi tekanan, sehingga lebih rentan terhadap gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.
Bagaimana Mengatasi Masalah Ini?
Untuk mengurangi resiko gangguan kesehatan mental akibat media sosial pada generasi strawberry adalah dengan mengurangi waktu bermain media sosial, alangkah baiknya jika mengalihkan perhatian anak dengan melakukan hal-hal positif seperti berolahraga atau mengembangkan hobi anak.
Sebagai orang tua, berperan aktif untuk memperhatikan konten yang dilihat oleh anak-anak adalah hal yang penting.
Dengan melakukan pengawasan terhadap tontonan anak, akan melindungi anak dari bahaya sosial media.
Media sosial memang bisa menjadi alat yang bermanfaat, tetapi juga bisa menjadi bumerang. Sebagai generasi muda, kita harus pintar memilah tontonan apa yang baik dan bermanfaat sehingga kita bisa selamat dari mental generasi strawberry.
Mari jadikan media sosial sebagai ruang untuk belajar dan berkembang, bukan tempat yang merusak kesehatan mental. Bagaimana? sudah siap mengelola media sosial dengan lebih bijak? (*)
Editor : Riana M.