PONOROGO, Jawa Pos Radar Lawu – Nama Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah menjadi buah bibir belakangan. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ora Aji, Sleman yang viral mengolok-olok penjual itu turut diperbincangkan di Bumi Reog.
Pasalnya, Gus Miftah dianggap sebagai keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari, pendiri Pesantren Gebang Tinatar sekaligus Masjid Tegalsari, Ponorogo.
Nasab yang jamak diketahui publik terutama di media sosial itu beredar luas.
Sumbernya, dari Wikipedia yang menyebutkan bahwa ayahnya bernama M. Morodhi bin M. Boniran, keturunan kiai masyhur dari Ponorogo tersebut.
Usut punya usut, garis keturunan Gus Miftah dari Tegalsari, Ponorogo dipertanyakan.
Raden Kunto Purnomo, generasi kedelapan Kiai Ageng Muhammad Besari, menegaskan Gus Miftah tidak tersambung dengan Tegalsari.
Menurutnya, klaim tersebut tidak mendasar. Selain tidak dapat dibuktikan secara konkret, pihaknya telah menelusuri garis keturunan leluhurnya. Hasilnya, tak ada nama Gus Miftah maupun nama orang tuanya dalam silsilah Kiai Ageng Muhammad Besari.
‘’Tidak ada (Gus Miftah, Red) dalam silsilah. Saya mengharapkan kalau memang pengakuannya dari Kyai Ageng Muhammad Ilyas, dari istri berapa, nanti akan ketemu,’’ ujarnya.
Kunto membeberkan sejumlah keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari yang menjadi tokoh besar.
Baca Juga: Borobudur Land: Daya Tarik, Fasilitas, Harga Tiket Masuk, Jam Operasional, dan Rute
Seperti HOS Cokroaminoto misalnya, dipastikan valid garis keturunan. Alih-alih Gus Miftah memberikan klarifikasi terkait garis keturunan tersebut, pihaknya berharap klaim yang beredar tersebut divalidasi.
‘’Kalau HOS Cokroaminoto memang masih keturunan Kiai Ageng Muhammad Besari, karena ada bukti valid. Nah, kalau memang Gus Miftah keturunan Kyai Ageng Muhammad Besari mohon ditunjukkan secara valid. Kalau memang, iya (keturunan), saya ikut bangga sebagai dzurriyyah (keturunan) Tegalsari,’’ jelasnya kepada wartawan.
Secara garis besar, Kiai Ageng Muhammad Besari putra dari Ki Ageng Anom Besari, Caruban. Kemudian mendirikan Pesantren Gebang Tinatar yang menjadi embrio pendidikan agama berbasis pesantren di tanah Jawa.
Termasuk mendirikan Masjid Tegalsari yang masyhur hingga kini. Garis turun berlanjut ke Kiai Ageng Muhammad Ilyas, Kiai Kanjeng Bagus Hasan Besari, Kiai Kasan Anom Besari, Kiai Kasan Anom I, Kiai Kasan Anom II, Eyang Gatut Muhammad Ismail, R. Hartawan Cokoradisiswoyo, serta dirinya Raden Kunto Pramono.
‘’Saya cek kok nggak ada (silsilah Gus Miftah, Red). Masih merasa ada keraguan,’’ tegasnya. (gen/kid)
Editor : Nur Wachid