Jawa Pos Radar Lawu - Kata 'brain rot' diumumkan sebagai Word of the Year 2024 oleh Oxford English Dictionary (OED).
Kata Brain Rot menggambarkan gangguan psikologis atau intelektual yang disebabkan oleh konsumsi berlebihan konten, terutama konten daring yang dianggap tidak penting atau tidak berkualitas.
Menurut laporan BBC, Andrew Przybylski, seorang profesor psikologi di Universitas Oxford, mengatakan popularitas istilah Brain Rot mencerminkan kondisi sosial dan psikologis masyarakat modern.
Istilah brain rot banyak digunakan untuk menggambarkan dampak buruk dari mengonsumsi konten berkualitas rendah di media sosial, terutama oleh Gen Z dan generasi digital asli.
Andrew Przybylski menambahkan, fenomena ini menjadi gejala dari tantangan mental yang muncul akibat informasi yang berlimpah namun tidak memiliki kedalaman intelektual.
Asal Muasal Istilah Brainrot
Istilah "brain rot" sebenarnya tidak baru. Menurut Oxford University Press (OUP), penulis Henry David Thoreau menggunakan kata ini dalam bukunya Walden lebih dari seratus tahun yang lalu.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Animasi yang Wajib Ditonton Generasi Strawberry, Relate dan Penuh Inspirasi!
Thoreau mengkritik kecenderungan masyarakat untuk mengorbankan konsep kompleks untuk yang lebih sederhana.
Namun, dalam satu tahun terakhir, penggunaan istilah ini meningkat pesat, meningkat hingga 230%.
Di era digital, brain rot menjadi istilah yang menggambarkan kekhawatiran masyarakat terhadap efek buruk konsumsi berlebihan konten media sosial.
Baca Juga: Nakama One Piece jadi One Heart dengan Honda BeAT dan Tahi Lalats
Istilah "brain rot" digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana fungsi kognitif dan kesehatan mental menjadi lebih buruk karena terlalu lama terpapar konten digital yang tidak bermanfaat atau bahkan merusak.
Presiden Oxford University Press, Casper Grathwohl, menyatakan bahwa “brainrot” menjadi populer berkat generasi muda, khususnya Gen Z.
Dengan memilih "brainrot" sebagai Word of the Year, Oxford mengingatkan kita semua untuk menggunakan waktu dengan lebih cerdas di dunia digital.
Kata ini tidak hanya berbicara tentang linguistik, tetapi juga tentang bagaimana teknologi memengaruhi otak manusia.
Di tengah derasnya arus informasi, masalah utama adalah memilih konten yang benar-benar berkualitas tinggi dan membantu pertumbuhan intelektual dan emosional kita. (*)
Editor : Riana M.