Jawa Pos Radar Lawu - Angka golongan putih (golput) atau ketidakhadiran pemilih dalam Pilkada Serentak 2024 mendapat sorotan tajam dari Komisi II DPR RI.
Ketua Komisi II, Rifqinizamy Karsayuda, menyatakan bahwa tingginya angka golput perlu menjadi bahan evaluasi menyeluruh.
Hal ini diungkapkan dalam keterangannya pada Minggu (1/12/2024), dengan menilai bahwa keserentakan pemilihan mungkin justru menjadi faktor yang menurunkan partisipasi masyarakat.
"Komisi II DPR sedang mencermati apakah dengan keserentakan pemilihan yang kita lakukan justru menimbulkan anomali terhadap partisipasi masyarakat," ujar Rifqinizamy.
Rifqinizamy menegaskan, pihaknya berencana untuk mendalami fenomena ini lebih jauh.
Tak hanya iti, ia juga mengungkapkan bahwa ada dugaan faktor penjadwalan Pilkada yang terlalu dekat dengan pemilu presiden dan legislatif, yang bisa mempengaruhi minat masyarakat.
Komisi II berencana melakukan riset mendalam untuk menilai pengaruhnya terhadap partisipasi pemilih dalam Pilkada.
Sementara itu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI mengakui adanya penurunan partisipasi pemilih di Pilkada 2024.
Anggota KPU sendiri, August Mellaz, memperkirakan tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada 2024 akan berada di bawah 70 persen, angka yang lebih rendah dibandingkan dengan Pilkada 2019 dan Pileg.
Bahkan, Mellaz menilai ini adalah fenomena umum, mengingat Pilkada cenderung memiliki angka partisipasi yang lebih rendah dibandingkan pemilu nasional.
Dengan tingginya angka golput, evaluasi terhadap pelaksanaan Pilkada Serentak 2024 menjadi langkah yang penting agar partisipasi pemilih dapat ditingkatkan di masa depan.
Faktor keserentakan dan jadwal yang terlalu rapat dengan pemilu lainnya perlu diteliti untuk menemukan solusi yang efektif. (okta)
Editor : Riana M.