Jawa Pos Radar Lawu - Peternak sapi perah di Boyolali kini berharap agar Kementerian Pertanian (Kementan) RI segera memberikan solusi atas permasalahan yang sedang mereka hadapi.
Setiap harinya, sekitar 30 ribu liter susu terbuang di Boyolali karena berbagai kendala yang dihadapi peternak lokal. Situasi ini telah sampai ke perhatian para pejabat di Jakarta.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman bahkan langsung memimpin rapat koordinasi bersama Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) dan mengundang perwakilan dari Asosiasi Industri Pengolahan Susu (IPS).
Rapat koordinasi tersebut digelar hari ini, dengan tujuan untuk mencari solusi atas masalah yang mengakibatkan penurunan penyerapan susu dari peternak.
Menurut Sriyono Bonggol, salah satu peternak sapi perah, pemerintah pusat diharapkan dapat membantu mereka menemukan jalan keluar atas permasalahan ini.
"Kondisi peternak saat ini sudah sangat was-was," ujarnya.
Saat ini, koperasi dan pengepul susu yang biasanya menampung produksi dari para peternak juga terkena pembatasan, sehingga berdampak langsung pada peternak yang harus membatasi produksi susunya.
Hal ini, yang menimbulkan dilema hati bagi para peternak sapi.
Di satu sisi, mereka tak bisa berhenti memeras susu sapi karena dapat berdampak buruk bagi kesehatan hewan mereka, namun di sisi lain, susu yang terus dihasilkan tersebut sulit untuk dijual.
"Padahal para peternak hanya bergantung pada penjualan susu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka," ungkap Sriyono.
Dari 14 ekor sapi yang ia pelihara, Sriyono mampu menghasilkan sekitar 200 liter susu per hari.
Seluruh produksinya biasa disetor ke KUD Mojosongo, tetapi karena koperasi tersebut juga terkena pembatasan, kini situasi semakin sulit bagi peternak.
Sehingga, harapan peternak berada di tangan pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret dalam menyelesaikan masalah penyerapan susu ini. (okta)
Editor : Riana M.