JAKARTA, Jawa Pos Radar Lawu – Nama RS Medistra mendadak viral hingga menjadi trending topic di platform X (sebelumnya Twitter).
Setelah seorang dokter spesialis onkologi, dr. Diani Kartini, mengungkap dugaan larangan penggunaan hijab bagi dokter dan perawat di rumah sakit tersebut.
Sebagaimana diungkapnya dalam isi surat pengunduran diri yang diajukan setelah 14 tahun bekerja.
Tagar #RSMedistra terus viral dengan lebih dari 14 ribu postingan hingga artikel ini ditayangkan.
Kontroversi ini bermula dari surat terbuka yang ditulis oleh dr. Diani Kartini kepada manajemen RS Medistra.
Dalam surat tersebut, Diani mengungkapkan keluhan mengenai kebijakan berpakaian di lingkungan rumah sakit yang dianggap diskriminatif.
"Beberapa waktu lalu, asisten saya dan juga kemarin kerabat saya mendaftar sebagai Dokter Umum di RS Medistra. Kebetulan keduanya menggunakan hijab," tulis dr. Diani Kartini dalam surat yang beredar luas di media sosial.
Diani menambahkan bahwa dalam sesi wawancara, kedua rekannya tersebut diberikan pertanyaan yang menyinggung soal penampilan.
Hal itu seolah-olah mengisyaratkan bahwa hijab tidak sesuai dengan standar RS Medistra yang berlabel internasional.
"Ada pertanyaan terakhir di sesi wawancara. Menanyakan terkait performance dan RS Medistra sebagai RS Internasional, sehingga timbul pertanyaan: Apakah bersedia membuka hijab jika diterima?" ungkap Diani Kartini dalam suratnya yang ditulis pada 29 Agustus 2024.
Dokter Diani menilai bahwa kebijakan ini merupakan bentuk rasisme dan diskriminasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Ia pun mempertanyakan apakah ada standar ganda dalam aturan berpakaian yang diterapkan bagi perawat, dokter umum, dokter spesialis, dan subspesialis di RS Medistra.
Sebagai bentuk protes, dr. Diani Kartini memutuskan untuk mengundurkan diri dari RS Medistra pada Sabtu (31/8/2024), setelah 14 tahun mengabdi di rumah sakit yang terletak di Jakarta Selatan tersebut.
"Saya langsung keluar dan tidak bekerja di Medistra lagi setelah peristiwa itu," ungkapnya.
Diani Kartini mengaku tidak menyesal dengan keputusannya untuk mundur.
Baginya, tindakan ini adalah bentuk pembelaan terhadap prinsip yang ia yakini, bahwa kebijakan berpakaian yang menyalahi ideologi Pancasila tidak bisa diterima.
Kasus ini terus mendapatkan perhatian luas di media sosial, dengan banyak warganet yang turut mengkritik kebijakan RS Medistra dan memberikan dukungan kepada dr. Diani Kartini. (kid)
Editor : Nur Wachid