Jawa Pos Radar Lawu - Mohammed Deif, komandan sayap bersenjata Hamas, dilaporkan masih hidup, meskipun Israel mengklaim telah membunuhnya dalam serangan udara pada 13 Juli 2024.
Dilansir dari Middle East Eye (MEE), pernyataan tersebut disampaikan oleh Osama Hamdan, seorang pejabat senior Hamas, dalam sebuah wawancara dengan Associated Press (AP) yang dirilis pada hari Kamis (15/8/2024).
Menurut Hamdan, Mohammed Deif, yang memimpin Brigade Izz al-Din al-Qassam, berada dalam kondisi baik, menyangkal klaim Israel yang diumumkan pada 1 Agustus lalu.
Pernyataan tersebut merupakan tanggapan resmi pertama dari Hamas terhadap klaim Israel.
Hamdan juga menuduh Israel menggunakan klaim ini sebagai alasan untuk membenarkan pembunuhan massal terhadap warga Palestina pada hari yang sama.
Dalam serangan tersebut, 88 warga Palestina tewas dan 289 lainnya terluka akibat pemboman di Khan Younis, Gaza selatan, di daerah yang disebut sebagai zona kemanusiaan.
Laporan Israel tentang kematian Deif pertama kali disiarkan oleh radio militer mereka, namun Hamas segera menolak klaim tersebut sebagai "omong kosong".
Khalil al-Hayya, wakil kepala Hamas di Gaza, bahkan menyatakan bahwa klaim Israel tersebut hanyalah upaya untuk mendeklarasikan "kemenangan palsu" setelah serangan yang menyebabkan kematian banyak warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak.
Pada 1 Agustus, Israel menyatakan bahwa mereka telah mengonfirmasi kematian Mohammed Deif berdasarkan penilaian intelijen, namun tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Deif bertanggung jawab atas serangan terhadap warga sipil Israel dan bahwa kematiannya adalah bagian dari upaya untuk membalas dendam.
Namun, klaim ini diragukan oleh banyak pihak, termasuk Hamas. Mohammed Deif telah lama menjadi target utama Israel, dan meskipun ada beberapa upaya pembunuhan terhadapnya, dia selalu berhasil selamat.
Hingga kini, Middle East Eye (MEE) dan berbagai media internasional belum dapat memverifikasi klaim Israel terkait kematian Deif.
Sementara itu, Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) telah menetapkan surat perintah penangkapan terhadap Mohammed Deif, bersama dengan dua pemimpin Hamas lainnya, atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant juga sedang dicari oleh ICC atas tuduhan kejahatan perang, termasuk membuat warga sipil kelaparan sebagai metode perang.
Dengan klaim yang saling bertentangan antara Hamas dan Israel, nasib Mohammed Deif tetap menjadi misteri bagi banyak pihak, dan ketegangan di Gaza pun belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (kid)
Editor : Nur Wachid