JAWA POS RADAR LAWU - Berupa-rupa isi dunia ini.
Mulai rasa gatal, orang medit alias pelit, sampai ulama top.
Gus Baha pernah menyampaikan cerita tentang tiga hal itu.
Cerita bukan sembarang cerita.
Cerita yang sarat makna, yang penting untuk menjalani hidup.
Dalam sebuah kajian yang dipimpinnya, Gus Baha berkisah mengenai rasa gatal, orang pelit, dan seorang ulama top, dalam sebuah penggelan cerita.
Suatu ketika, ada ulama kenamaan bernama Jakhid.
Ulama itu terkenal mbeling.
''Yo ono, ulama mbeling koyo ngono kui,'' kata Gus Baha di kajian itu.
Dalam bahasa Indonesia, ucapan Gus Baha berarti: ya ada, ulama slengekan seperti itu.
Predikat mbeling yang disebut Gus Baha untuk Jakhid bukan tanpa sebab.
Dasar sebutan itu berkaitan dengan jawaban Jakhid saat ditanya, ''Mbah, neng ndonyo paling nikmat opo?'' tutur Gus Baha dalam kajian itu.
Pertanyaan tersebut artinya, ''Mbah, di dunia ini paling nikmat apa?''.
Saat mendapat pertanyaan itu, Jakhid selalu menjawab, 'Pertama, ngrasani wong medit (bergunjing tentang orang pelit). Kedua, kukur-kuru (menggaruk bagian tubuh yang gatal)'.
Jawaban Jakhid yang ditirukan oleh Gus Baha menyulut gelak tawa peserta pengajian.
Ahli fiqih bernama lengkap Ahmad Bahauddin Nursalim itu lantas menjelaskan jawaban Jakhid yang terkesan slengekan itu.
Jawaban seperti itu merupakan sebuah pengingat.
Bahwa, nikmat di dunia ini tidak cuma tentang hal yang mewah-mewah.
''Nikmat tidak harus naik Alphard, gak harus punya tabungan Rp 100 juta,'' kata Gus Baha ambil contoh.
''Berhasil menggaruk di bagian yang tepat itu enake pol,'' lanjutnya.
Ya, saat ada rasa gatal di punggung yang sulit dijangkau, akan muncul nikmat tersendiri ketika bisa meraih dan menggaruknya.
''Ulama Jakhid, ulama top tapi cangkem elek, tapi terkenal alim,'' ujar Gus Baha.
Cerita tentang rasa gatal, orang medit alias pelit, dan ulama top bernama Jakhid itu punya makna yang dalam.
Hal yang dianggap sepele, sejatinya juga sebuah kenikmatan. Bersyukur itu penting.(den)
Editor : Deni Kurniawan