JAWA POS RADAR LAWU - Rasa gatal di tubuh acap membuat sebal.
Alhasil, bagian yang gatal digaruk-garuk sambil mrengut, cemberut, plus sambat alias mengeluh.
Gus Baha punya cerita perihal gatal dan mrengut, cemberut, dan lain sebagainya itu.
Termasuk, perihal tanda-tanda manusia alias umat pilihan.
Gus Baha pernah mengakui bahwa rasa gatal yang dibarengi mrengut baginya sebuah masalah besar.
Entah gatal di kepala, tangan, atau di bagian tubuh lain, yang dibarengi sambat mengeluh.
Ahli fiqih bernama lengkap Ahmad Bahauddin Nursalim tersebut sangat malu saat mengalami hal seperti itu.
Bukan malu kepada orang sekitar, melainkan malu terhadap Allah SWT.
Mengapa Gus Baha bisa seperti itu?
Menurutnya, mrengut (sambat atau mengeluh) karena gatal seolah tidak ridho dengan kehendak-Nya.
Padahal, dirinya tinggal di kerajaan Allah.
Dari cerita Gus Baha tentang rasa gatal dan mrengut itu, dapat ditarik kesimpulan.
Baca Juga: Cerita Gus Baha, Istri Kelewat Galak Itu Sarana Menjadi Seorang Wali
Bahwa, sekecil apapun sambat atau mengeluh itu tidaklah baik.
Namun demikian, menjadi manusia yang tak mudah sambat itu tak segampang membalik telapak tangan.
Sambat atau mengeluh merupakan masalah besar bagi manusia-manusia atau umat pilihan.
Gus Baha pernah menyampaikan bahwa umat pilihan itu tertawanya keras.
Sebab, mereka sadar dan paham betul luasnya rahmat Allah SWT.
Itu dapat dimaknai bahwa umat pilihan tak mudah sambat atau mengeluh.
Tapi, lanjut Gus Baha, ada terusannya alias tak cukup sekadar tertawa keras lantaran paham rahmat Allah SWT sangat luas.
Umat pilihan itu juga sering menangis saat sendiri lantaran khawatir masuk neraka.
Cerita tentang rasa gatal dibarengi sambat serta tanda umat pilihan itu sempat disampaikan Gus Baha dalam suatu pengajian.
Yakni, saat Gus Baha memberikan pengajian Tafsir Jalalain Q.S. Luqman 12-13. (den)
Editor : Deni Kurniawan