Jawa Pos Radar Lawu - Baru-baru ini, masyarakat dihebohkan dengan berita mengejutkan dari selebgram terkenal, Aghnia Punjabi. Putrinya, Jana Amira Priyanka atau Cana, menjadi korban kekerasan oleh pengasuhnya sendiri.
Insiden ini tidak hanya menimbulkan keprihatinan di tengah masyarakat, tetapi juga memicu perbincangan tentang perlindungan anak dan penegakan hukum di Indonesia.
Banyak yang mengira bahwa pengasuh Cana sudah dijatuhi hukuman, padahal kenyataannya, pelaku masih berada di tahanan kepolisian Malang Kota.
Kekerasan yang dialami Cana tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga trauma yang dalam. Cana sering mengalami mimpi buruk, ketakutan, dan terbangun di tengah malam.
Ketakutannya terhadap lingkungan sepi dan orang baru, terutama wanita, menunjukkan trauma yang serius. Trauma ini memerlukan perhatian dan penanganan khusus agar Cana dapat pulih secara emosional.
Menanggapi situasi ini, ahli Psikologi Anak Universitas Brawijaya (UB), Ari Pratiwi, menyatakan bahwa pemulihan emosional anak harus menjadi prioritas utama.
Ia menekankan bahwa orang tua perlu mengalihkan fokus dari kemarahan menuju dukungan emosional dan bantuan profesional yang diperlukan anak untuk pulih dari trauma.
"Sebaiknya fokus pada penyelesaian internal kejiwaan dan psikis anak daripada membagikan momen tersebut," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa membagikan emosi atau kemarahan di media sosial adalah hal yang wajar bagi orang tua, namun perlu dilakukan dengan bijaksana untuk menghindari jejak digital yang berlebihan.
Ari juga menegaskan pentingnya konseling dengan profesional kesehatan mental untuk proses penyembuhan anak korban kekerasan. "Orang tua juga seharusnya mengikuti konseling agar mereka dapat menangani trauma anaknya dengan tepat," tutupnya.
Aghnia Punjabi berharap pelaku mendapat hukuman yang seberat-beratnya dan meminta dukungan dari netizen untuk terus mengawal kasus ini dengan tagar #JusticeForCana.
Kasus ini juga menjadi pelajaran bagi para orang tua dan agensi penyedia jasa pengasuh anak. Aghnia menekankan pentingnya selektivitas tinggi dalam memilih pengasuh.
Agensi pengasuh anak harus lebih berhati-hati dan selektif untuk memastikan pengasuh yang mereka rekomendasikan memiliki kredibilitas dan rekam jejak yang baik.
Kasus kekerasan terhadap Cana adalah pengingat bahwa perlindungan anak harus menjadi prioritas utama.
Kita semua memiliki peran dalam menjaga dan memastikan keamanan serta kesejahteraan anak-anak.
Dengan dukungan dan perhatian bersama, diharapkan keadilan dapat ditegakkan dan kejadian serupa tidak terulang kembali. (herlin-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid