Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Inilah Tahapan Upacara Pernikahan Adat Bali, Tradisi Sakral yang Tak Bisa Dipisahkan

Nur Wachid • Jumat, 15 Maret 2024 | 20:29 WIB
Photo
Photo

Jawa Pos Radar Lawu - Upacara pernikahan adat Bali tidak hanya sekadar serangkaian acara, tetapi juga sebuah perjalanan yang syarat dengan makna dan simbolisme mendalam.

Dengan tahapan-tahapan yang khas dan tata cara yang terpelihara, pernikahan adat Bali menggambarkan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang patut dijunjung tinggi.

Mari kita telusuri dan mengenal lebih dalam prosesi yang memikat ini :

1. MESUKAWA

Mesuakawa merupakan pertemuan antara keluarga besar laki – laki dan perempuan, dengan tujuan untuk menentukan hari baik atau duwase, jenis dan urutan upakara.

2. NGIDIH / MEMINAH

Ngidih merupakan datangnya pihak keluarga laki – laki bersama saksi dan tokoh adat dan agama dengan maksud meminang atau meminta mempelai perempuan untuk diajak ke rumah mempelai laki – laki.

Secara umum ada beberapa tahapan dari ngidih/meminah seperti :
a. Nganteb Pejati
b. Dialog / Rembug
c. Tukar Cincin
d. Sungkem

3. MEPAMIT

Mepamit diartikan dengan memohon izin kepada leluhur/kawitan dari perempuan, bahwa mulai hari itu akan ikut bersama dengan suami, sehingga agar direstui dan selalu dilindungi meski sudah berpindah keluarga.

Kebanyakan orang salah mengartikan pada tahap ketiga ini, padahal mempamit yaitu prosesi meninggalkan keluarga bukan tatanan keleluhuran.

4. MESEGEH AGUNG

Mesegeh Agung sendiri diartikan sebagai simbol ucapan selamat datang dari mempelai laki – laki terhadap mempelai perempuan.

Setelah mempelai perempuan diajak ke rumah mempelai laki – laki, mempelai perempuan belum bisa masuk kehalaman rumah. Maka dari itu, kedua mempelai harus melakukan prosesi Mesegeh Agung.

5. SUMPAH JANJI

Sumpah Janji merupakan proses mengucapkan sumpah janji sebagai seorang suami istri, dengan posisi kedua ibu jari menjepit Kuwangen dan diikat benang Tridatu.

Prosesi ini, tidak semua ada di setiap desa atau banjar tergantung adatnya. Pengucapan sumpah janji ini dilakukan masing–masing mempelai sebagai suami istri.

6. MEMBIAKALA

Membiakala memiliki arti membersihkan kedua mempelai secara lahir batin, terutama sukla swanita, yaitu sel benih pria dan sel benih wanita agar dapat membentuk janin yang suputra.

Beberapa urutan dari proses upakara ini yaitu :
a. Sembahyang
b. Berbalas lempar telur hingga 3 kali
c. Nyibak Tikeh
d. Najung Sambuk
e. Ngider Banten Mebyakala
f. Mebenang Pepegatan
g. Ngideran Tetanem
h. Medagang

Setelah melewati proses upakara atau upacara membiakala ini, mempelai perempuan diperbolehkan masuk rumah laki – laki.

7. PUJA BHAKTI DAN MEWINTEN

Merupakan proses yang bertujuan membersihkan jiwa dan raga kedua mempelai dan juga dapat diartikan sebagai proses registrasi kehadapan leluhur, bahwa sang perempuan sudah resmi menjadi keluarga secara niskala.

Uniknya dari proses MEWINTEN ini mempelai di minta untuk merasakan 5 varian rasa, diartikan sebagai rasa kehidupan. Rasanya ada pahit, asam, kecut, hambar, hingga manis. Konon katanya begitu sebagai harapan untuk kehidupan pengantin agar berakhir manis.

8. NATAB BANTEN PAWETON

Proses ini berarti menandakan telah tuntasnya tugas orang tua dalam membesarkan dan melindungi anaknya yang kemudian menjadi tanggung jawab sang suami.

Upakara ini biasa dilakukan diatas tempat tidur pengantin dimana mempelai laki–laki memberikan seserahan pada Iwe perempuan. Tahapan ini diakhiri dengan saling menyuapi makanan antara mempelai laki – laki dengan mempelai perempuan.

9. MENGEKANG atau PUJA TUMPENG

Berarti proses registrasi sang pengantin baru menjadi bagian dari karma adat. Krama adat datang ke rumah pengantin baru membawa / ngejot banten tumpeng yang dilakukan pada saat Hari Raya Galungan atau Kuningan. Upacara akan dilakukan tergantung adat istiadat desa setempat, karna setiap desa berbeda.

Upacara pernikahan adat Bali memperlihatkan keindahan dan kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari Mesuwaka hingga Puja Tumpeng, setiap tahapan memancarkan nilai-nilai kebersamaan, kesakralan, dan penghormatan terhadap leluhur.

Dalam setiap detilnya, upacara ini menggambarkan keharmonisan antara manusia dengan alam dan tradisi. Dengan demikian, pernikahan adat Bali tidak sekadar menjadi perayaan cinta dua insan, tetapi juga sebuah simbol keberlanjutan budaya dan nilai-nilai luhur yang tetap dijaga dan dilestarikan. (okta-pnm/kid)

Editor : Riana M.
#tahapan #pernikahan adat bali #kebudayaan #bali #tradisi #kearifan lokal #budaya #warisan leluhur