MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Becak Lawu bukan hanya merujuk pada julukan Suwardi, atlet mixed martial art (MMA) asal Magetan.
Becak Lawu juga dikenal sebagai kendaraan tradisional di lereng timur Gunung Law masuk Magetan, meliputi Kelurahan Sarangan, Desa Ngerong, dan Desa Dadi.
Kendaraan berbahan bakar gravitasi bumi itu masih bisa dijumpai di ruas Jalan Raya Sarangan–Plaosan.
Berikut fakta menarik tentang Becak Lawu yang dirangkum Radar Lawu dari berbagai sumber.
- Konstruksi Kendaraan
Becak Lawu terbuat dari rangkaian batang kayu tanpa mesin.
Empat rodanya dari kayu berbalut ban bekas. Bagian tengah roda dipasang laher guna membuat putarannya menjadi kencang.
- Daya Gerak
Becak Lawu bergerak memanfaatkan geografis perbukitan. Daya geraknya memanfaatkan dorongan gravitasi dari kontur jalan yang menurun.
Sistem pengeremannya dengan cara menarik pegangan tangan ke arah belakang guna menghambat laju roda belakang.
Sedangkan untuk berbelok menggunakan gerakan kaki dari pengemudinya.
- Fungsi
Masyarakat lereng timur Gunung Lawu biasa menggunakan Becak Lawu untuk mengambil ranting pohon sebagai kayu bakar.
Baca Juga: Warga Madiun Tewas di Dalam Sumur, Teman Korban Beberkan Kesaksian Detik-Detik Kronologi Kejadian
Selain itu mengangkut rumput dan hasil hutan maupun ladang lainnya untuk pakan ternak.
Belakangan, sebagian warga memodifikasi Becak Lawu menyerupai mobil balap formula untuk alternatif permainan anak-anak.
- Diakui Negara
Sejak 2013, Becak Lawu berstatus sebagai salah satu warisan budaya tak benda Indonesia.
Statusnya tercatat dalam nomor registrasi 2013003919, dengan domain Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta.
Berdasarkan laman resmi Kemendikbud, Becak Lawu disebut memiliki kecepatan luncur sampai 60 kilometer per jam.
Pemkab Magetan menggunakan transportasi itu untuk menarik wisatawan berkunjung ke objek wisata Sarangan. (cor)
Editor : Nur Wachid