sumber gambar: pinterest
Jawa Pos Radar Lawu - Penggunaan telepon genggam saat ini sudah bergeser cukup jauh dari fungsi dasarnya sebagai alat berkomunikasi belaka.
Di tengah gempuran bermacam-macam merek ponsel di pasaran, produk telepon pintar buatan Apple, yaitu iPhone, punya posisi yang sangat istimewa di mata publik.
Perangkat ini tidak cuma dipakai buat berkirim pesan atau berselancar di media sosial, tapi sudah dianggap sebagai penanda gaya hidup, simbol barang mewah, sampai tolok ukur strata sosial seseorang saat berada di ruang publik.
Faktor utama yang membuat citra mewah begitu melekat pada iPhone tidak lepas dari konsistensi strategi pemasaran Apple sejak awal rilis.
Saat produsen lain sibuk membuat ponsel untuk berbagai tingkatan pasar dari yang murah hingga yang mahal, Apple konsisten cuma mengincar segmen pasar kelas menengah ke atas.
Keputusan untuk tidak memproduksi ponsel murah ini secara otomatis menanamkan anggapan di benak publik bahwa iPhone adalah barang mahal serta berkelas.
Bentuk fisiknya yang sangat khas dan gampang mengenalinya dari kejauhan juga jadi pemicu utama timbulnya rasa gengsi bagi para pemiliknya.
Tatanan modul kamera yang unik serta hadirnya logo apel ketiak di bodi belakang bikin ponsel ini terlihat mencolok saat dipegang atau ditaruh di atas meja tempat nongkrong.
Ciri khas visual ini bikin pemiliknya bisa memamerkan barang mewah secara halus tanpa perlu sibuk ngomong ke orang-orang sekitar.
Apple juga terbukti sangat mahir menciptakan ekosistem digital tertutup yang memunculkan kesan eksklusif bagi para penggunanya.
Pemakaian sistem operasi iOS yang khusus beserta fitur eksklusif macam AirDrop, iMessage, dan FaceTime secara tidak langsung membuat batasan sosial antara pengguna iPhone dan non-iPhone.
Efek psikologis kelompok ini bikin orang-orang yang ada di dalam ekosistem Apple merasa jadi bagian dari lingkaran sosial yang lebih tinggi ketimbang pengguna ponsel lain.
Tingginya pengaruh budaya populer dan paparan media sosial ikut memperkuat pandangan kalau iPhone adalah HP wajib buat siapa saja yang mau kelihatan keren.
Hampir sebagian besar figur publik, mulai dari artis ternama, kreator konten, sampai pemengaruh media sosial selalu kelihatan memakai iPhone di aktivitas harian mereka.
Tren mengunggah foto di depan cermin (mirror selfie) sambil memperlihatkan logo Apple makin menegaskan kalau HP ini merupakan standar gaya hidup anak muda jaman sekarang.
Kalau dilihat dari sisi teknis, kualitas jepretan kamera dan optimasi sistem iOS bikin hasil foto maupun video kelihatan sangat jernih dan rapi.
Hasil konten yang tidak pecah saat diunggah ke Instagram atau TikTok membuat tampilan akun media sosial penggunanya terkesan lebih niat dan profesional.
Tampilan visual yang estetik ini secara tidak langsung mendongkrak citra diri penggunanya di dunia maya, yang ujung-ujungnya makin bikin percaya diri.
Daya tarik lain yang bikin harga diri pengguna iPhone tetap terjaga adalah nilai jual kembalinya (resale value) yang tergolong paling stabil ketimbang merek kompetitor.
Karena peminat pasar iPhone bekas selalu melimpah, harga second-nya tidak bakal anjlok parah.
Ketahanan harga ini memberikan rasa aman bagi pembeli bahwa merogoh kocek belasan sampai puluhan juta rupiah buat beli iPhone bukanlah hal yang sia-sia, melainkan bentuk investasi pada barang bernilai tinggi.
Keinginan mendapatkan pengakuan sosial atau dorongan agar bisa diterima di lingkungan pergaulan tertentu sering kali jadi alasan utama orang memutuskan beli iPhone.
Tidak sedikit orang yang rela menyisihkan tabungan cukup besar demi bisa memegang ponsel pintar ini supaya tidak merasa minder atau ketinggalan zaman dalam pergaulan.
Perpaduan antara mutu produk yang oke, branding kelas atas, serta dorongan gengsi inilah yang bikin takhta iPhone sebagai HP paling bergengsi belum tergeser sampai sekarang.
(Fauzan Fulvian Faustanto Magang Universitas Negeri Yogyakarta)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Kompasiana, Yoursay Suara, Quora, RRI