Jawa Pos Radar Lawu – Cara masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari terus mengalami perubahan.
Pada 2026, keputusan membeli produk tak lagi hanya berkaitan dengan harga atau fungsi barang, tetapi juga pengalaman, kemudahan layanan, hingga manfaat yang dirasakan dalam jangka panjang.
Perubahan ini turut mendorong pelaku usaha menyesuaikan strategi untuk memahami kebutuhan konsumen.
Industri kecantikan, kesehatan, dan wellness menjadi salah satu sektor yang ikut merasakan pergeseran tersebut.
1. Pengalaman Belanja yang Lebih Personal
Kebutuhan setiap konsumen berbeda. Karena itu, pendekatan yang sama untuk semua pelanggan mulai terasa kurang relevan, terutama dalam industri kecantikan dan perawatan diri.
Konsumen kini semakin tertarik pada layanan yang mempertimbangkan karakter, preferensi, serta kebutuhan masing-masing individu.
Pendekatan personal dapat membantu pelanggan menemukan pilihan produk maupun perawatan yang lebih sesuai.
Bagi pelaku usaha, perubahan ini menjadi peluang untuk membangun interaksi yang lebih dekat dengan konsumen.
Hubungan yang sebelumnya hanya berlangsung saat transaksi dapat berkembang menjadi pengalaman yang lebih berkelanjutan.
Baca Juga: Bukan Cuma Tempat Belanja, TikTok Shop Ikut Dorong Fashion Lokal Makin Dikenal
2. Wellness Tak Lagi Sekadar Tren
Perawatan diri kini semakin berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan dan kesejahteraan secara menyeluruh.
Konsumen tidak hanya memperhatikan penampilan, tetapi juga mulai memberi perhatian pada kondisi fisik dan emosional.
Perkembangan ini membuat konsep wellness semakin relevan dalam industri kecantikan.
Aktivitas seperti olahraga, relaksasi, edukasi kesehatan, hingga praktik kesadaran diri menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung keseimbangan sehari-hari.
3. Pengalaman Belanja Fisik dan Digital Terintegrasi
Teknologi turut mengubah cara masyarakat mencari informasi, membandingkan produk, hingga melakukan pembelian.
Konsumen dapat mengenal sebuah produk melalui platform digital, kemudian mengunjungi toko fisik untuk melihat pilihan secara langsung.
Sebaliknya, mereka juga bisa menemukan produk di toko dan melanjutkan transaksi melalui kanal daring.
Kondisi tersebut membuat integrasi layanan fisik dan digital semakin penting.
Baca Juga: Bukan Sekadar Nostalgia, Fashion Vintage Jadi Cara Gen Z Merayakan Gaya Lintas Generasi
Pelanggan menginginkan proses yang praktis, informasi yang konsisten, serta kemudahan ketika berpindah dari satu saluran ke saluran lainnya.
4. Nilai Tambah Jadi Pertimbangan Konsumen
Selain produk dan kemudahan transaksi, konsumen juga semakin memperhatikan manfaat tambahan yang mereka peroleh dari sebuah bisnis.
Nilai tersebut dapat berupa informasi yang membantu pelanggan memilih produk, edukasi mengenai perawatan diri, pelayanan yang responsif, maupun pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa mempertahankan pelanggan membutuhkan lebih dari sekadar menawarkan produk.
Pelaku usaha perlu memahami kebutuhan konsumen dan menghadirkan layanan yang relevan.
Perubahan perilaku konsumen tersebut turut menjadi konteks perkembangan industri kesehatan dan kecantikan di Indonesia.
Watsons Indonesia menandai 20 tahun kehadirannya di Tanah Air pada 2026.
Selama dua dekade, perusahaan ini mengembangkan akses terhadap kebutuhan kesehatan, kecantikan, dan perawatan diri melalui jaringan toko fisik serta layanan digital.
Perkembangan tersebut juga mencerminkan pendekatan bisnis yang semakin menghubungkan produk, wellness, pengalaman pelanggan, dan kemudahan layanan.(*)
(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : berbagai sumber