Source : Cherumbu News
Jawa Pos Radar Lawu - Berkeringat merupakan hal yang normal yang dialami oleh tubuh dan menjadi salah satu cara tubuh mengatur suhu.
Namun, jika keringat keluar dalam jumlah berlebihan tanpa pemicu yang jelas, kondisi tersebut perlu diperhatikan karena dalam beberapa kasus dapat berkaitan dengan kondisi medis tertentu.
Tubuh secara alami mengeluarkan cairan yang mengandung garam melalui kelenjar keringat untuk membantu menyesuaikan suhu dengan lingkungan.
Keringat biasanya muncul ketika seseorang melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi makanan pedas, atau mengalami emosi tertentu seperti marah, takut, malu, maupun panik.
Demam dan gangguan tiroid seperti hipertiroidisme juga dapat meningkatkan produksi keringat namun berbeda cerita apabila muncul keringat berlebih yang muncul tanpa pemicu tertentu dapat disebut hiperhidrosis.
Secara umum, kondisi ini dibedakan menjadi hiperhidrosis primer yang tidak disebabkan oleh penyakit tertentu dan hiperhidrosis sekunder yang berkaitan dengan penyakit, kondisi medis, atau penggunaan obat tertentu.
Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik dan Jenis Olahraga yang Aman saat Puasa? Simak Penjelasannya
Jenis-Jenis Keringat Berlebih
Hiperhidrosis Fokal Primer
Pada hiperhidrosis fokal primer, keringat berlebih biasanya hanya muncul pada bagian tubuh tertentu misalnya pada telapak tangan, telapak kaki, ketiak, lipatan paha, kepala, atau wajah.
Kondisi ini umumnya terjadi secara simetris jadi jika telapak tangan kanan mengalami keringat berlebih, telapak tangan kiri biasanya mengalami hal yang sama.
Hiperhidrosis fokal primer diduga berkaitan dengan gangguan pada fungsi sistem saraf yang mengatur kelenjar keringat.
Kondisi tersebut umumnya mulai muncul sejak masa remaja atau dewasa apabila keringat berlebih baru muncul ketika seseorang memasuki usia paruh baya atau lebih tua, terutama hanya pada bagian tubuh tertentu, pemeriksaan medis sebaiknya dilakukan untuk mengetahui penyebabnya.
Hiperhidrosis Generalisata Sekunder
Berbeda dengan jenis primer, hiperhidrosis sekunder biasanya menyebabkan keringat berlebih di sebagian besar atau seluruh tubuh yang biasanya muncul pada malam hari.
Keringat berlebih jenis ini dapat berkaitan dengan berbagai kondisi medis, seperti:
- Gangguan tiroid
- Tuberkulosis
- Menopause
- Gagal jantung
- Stroke
- Kanker, termasuk limfoma dan leukemia
- Penyakit Parkinson
- Diabetes
- Cedera tulang belakang
- Penyakit paru-paru
- Gangguan kecemasan
Kehamilan juga dapat menyebabkan perubahan pada produksi keringat dan juga efek beberapa jenis obat dan suplemen dapat memicu keringat berlebih misalnya obat tertentu untuk infeksi, tekanan darah, mulut kering, serta beberapa obat yang digunakan untuk menangani kondisi kesehatan mental.
Kapan Keringat Berlebih Perlu Diperiksakan?
Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain:
- Keringat malam sampai membuat tempat tidur menjadi sangat basah.
- Keringat berlebih hanya muncul pada satu sisi tubuh.
- Keringat keluar hampir di seluruh tubuh, bukan hanya pada area tertentu.
- Disertai keluhan seperti sulit tidur, rasa haus berlebihan, kelelahan, batuk, atau sering buang air kecil.
- Muncul tanpa pemicu yang jelas dan berlangsung selama enam bulan atau lebih.
- Mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
- Disertai penurunan berat badan, nyeri dada, demam, jantung berdebar, dada terasa tertekan, atau sesak napas.
Tes yang mungkin dilakukan meliputi pemeriksaan darah, urine, serta pemeriksaan khusus untuk melihat respons tubuh dalam mengatur suhu.
Cara Mengatasi Keringat Berlebih
Penanganan hiperhidrosis bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya karena jika keringat berlebih berkaitan dengan kondisi medis tertentu, dokter akan menangani penyakit atau kondisi yang menjadi pemicunya.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menggunakan antiperspiran yang biasanya berbentuk seperti roll-on, losion, maupun spray.
Beberapa antiperspiran mengandung senyawa berbasis aluminium yang bekerja dengan mengurangi keluarnya keringat melalui saluran kelenjar keringat.
Terdapat beberapa metode penanganan yang dapat dilakukan berdasarkan kondisi pasien yaitu :
1. Menggunakan Obat Tertentu
Dokter dapat meresepkan obat antikolinergik pada kondisi tertentu, terutama ketika keringat berlebih terjadi secara luas meskipun bisa menimbulkan efek samping sehingga penggunaannya perlu dilakukan sesuai anjuran dan pengawasan dokter.
2. Suntik Botox
Suntikan botulinum toxin atau Botox dapat menjadi salah satu pilihan untuk hiperhidrosis yang terjadi pada area tubuh tertentu sehingga dapat menghambat sementara sinyal saraf yang merangsang produksi keringat.
3. Terapi Iontophoresis
Iontophoresis merupakan terapi yang menggunakan arus listrik berintensitas rendah untuk membantu mengurangi aktivitas kelenjar keringat secara sementara yang biasanya digunakan pada area seperti tangan dan kaki.
4. Tindakan Operasi
Jika berbagai metode penanganan tidak memberikan hasil yang memadai, dokter dapat mempertimbangkan tindakan tertentu sebagai pilihan berikutnya.
Beberapa prosedur dapat dilakukan untuk mengurangi aktivitas atau mengangkat kelenjar keringat, tergantung pada kondisi dan area yang mengalami hiperhidrosis.
Pada akhirnya, berkeringat merupakan bagian normal dari mekanisme tubuh dan tidak selalu menandakan adanya penyakit.
Namun, jika keringat keluar secara berlebihan tanpa penyebab yang jelas, berlangsung terus-menerus, atau disertai keluhan lain, sebaiknya jangan diabaikan dan konsultasikan dengan tenaga medis untuk mengetahui penyebab serta penanganan yang sesuai.
(Auliya Nur Aisyah, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : alodokter