Jawa Pos Radar Lawu - Jam sudah menunjukkan tengah malam, tetapi mata masih tertuju pada layar ponsel.
Ada pekerjaan yang belum selesai, film yang belum tamat, atau sekadar ingin menikmati waktu sendiri sebelum akhirnya tidur.
Tanpa terasa, waktu istirahat semakin pendek dan pagi pun datang lebih cepat.
Begadang sesekali mungkin sulit dihindari karena pekerjaan atau aktivitas tertentu.
Namun, jika tidur larut malam menjadi kebiasaan, waktu istirahat yang berkurang dapat memengaruhi kondisi tubuh dan aktivitas pada hari berikutnya.
Kementerian Kesehatan menyebut orang dewasa pada umumnya membutuhkan sekitar 7–9 jam tidur setiap malam.
Kurang tidur dapat membuat tubuh tidak mendapatkan waktu pemulihan yang cukup setelah beraktivitas.
Bangun Pagi dengan Tubuh yang Lelah
Salah satu dampak yang paling mudah dirasakan setelah begadang tubuh terasa lemas. Waktu tidur yang pendek membuat tubuh kehilangan kesempatan untuk beristirahat secara optimal.
Akibatnya, aktivitas pada pagi hingga siang hari dapat terasa lebih berat.
Rasa kantuk juga bisa muncul ketika seseorang sedang belajar, bekerja, berkendara, atau melakukan kegiatan lain yang membutuhkan perhatian.
Kondisi tersebut tidak hanya membuat tubuh terasa kurang bertenaga.
Kurang tidur juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk menjalani rutinitas sehari-hari dengan baik.
Konsentrasi Bisa Ikut Menurun
Pekerjaan yang biasanya dapat diselesaikan dengan mudah terkadang terasa lebih sulit setelah tidur terlalu sedikit. Salah satu penyebabnya kemampuan berkonsentrasi yang ikut menurun.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kurang tidur dapat mengganggu kewaspadaan, perhatian, penalaran, hingga kemampuan memecahkan masalah.
Seseorang juga dapat menjadi lebih mudah lupa karena proses otak dalam mengolah dan menyimpan informasi ikut terganggu.
Hal tersebut tentu dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama bagi orang yang harus bekerja, belajar, atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan fokus.
Aktivitas Jadi Kurang Maksimal
Ketika tubuh mengantuk dan pikiran sulit berkonsentrasi, menyelesaikan pekerjaan membutuhkan usaha lebih besar.
Kreativitas dan kemampuan mengambil keputusan juga dapat ikut terganggu.
Kondisi ini membuat kebiasaan begadang perlu diperhatikan, terutama apabila dilakukan hampir setiap malam.
Suasana Hati Bisa Berubah
Kurang tidur bukan hanya berkaitan dengan rasa kantuk. Waktu istirahat yang tidak cukup juga dapat memengaruhi kondisi emosional.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kurang tidur dapat memengaruhi kemampuan otak dalam mengendalikan emosi.
Dampaknya bisa berupa suasana hati yang lebih mudah berubah, sulit mengendalikan perilaku, hingga kesulitan berkonsentrasi.
Karena itu, seseorang yang tidur terlalu sedikit bisa merasa lebih mudah kesal atau kurang bersemangat menjalani aktivitas pada hari berikutnya.
Begadang Juga Bisa Memengaruhi Pola Makan
Tidur larut malam sering kali berjalan beriringan dengan kebiasaan makan pada malam hari.
Ketika waktu terjaga menjadi lebih panjang, keinginan untuk mengonsumsi makanan atau camilan juga dapat muncul.
Kementerian Kesehatan mencatat bahwa begadang dapat mengganggu rutinitas makan dan mendorong konsumsi makanan berlebihan pada malam hari.
Jika makanan yang dipilih tinggi lemak dan kalori, kebiasaan tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan.
Kurang tidur juga dikaitkan dengan perubahan hormon yang berhubungan dengan rasa lapar dan metabolisme tubuh.
Jangan Jadikan Begadang sebagai Rutinitas
Sesekali tidur lebih larut karena keadaan tertentu berbeda dengan menjadikan begadang sebagai kebiasaan setiap hari.
Jika terus dilakukan, kurang tidur dapat memengaruhi kondisi fisik sekaligus aktivitas sehari-hari.
Untuk membantu memperbaiki pola tidur, waktu tidur dan bangun dapat dibuat lebih teratur.
Penggunaan ponsel menjelang tidur juga sebaiknya dikurangi karena aktivitas layar dapat membuat seseorang semakin sulit mengantuk.
Mencukupi waktu tidur bukan berarti mengurangi produktivitas.
Justru tubuh membutuhkan istirahat yang cukup agar dapat kembali menjalankan aktivitas dengan kondisi yang lebih siap pada keesokan harinya.
(Iis Choirrunisa, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : Keslan, Ayo Sehat, berbagai sumber