Bukan Sekadar Nostalgia, Fashion Vintage Jadi Cara Gen Z Merayakan Gaya Lintas Generasi

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 11:14 WIB
Fashion Gen Z, Ruang Publik Jadi Panggung Gaya. Source: Kittl
Fashion Gen Z, Ruang Publik Jadi Panggung Gaya. Source: Kittl

Jawa Pos Radar Lawu - Tren fashion Gen Z ternyata tidak selalu identik dengan sesuatu yang serba baru. Di tengah perkembangan gaya yang cepat berubah, anak muda justru kembali melirik berbagai unsur dari masa lalu.

Pakaian bergaya retro, sneakers klasik, tas vintage hingga barang thrift kini menjadi bagian dari cara Gen Z menunjukkan karakter.

Bukan hanya soal penampilan, tren tersebut juga mempertemukan selera anak muda dengan generasi yang lebih tua.

Perbedaan usia yang selama ini kerap dianggap menjadi batas dalam menentukan gaya perlahan mencair.

Fashion dan budaya populer justru membuka ruang bagi berbagai generasi untuk saling berbagi inspirasi.

Bagi Gen Z, gaya berpakaian tidak sekadar mengikuti apa yang sedang ramai. Unsur keaslian atau autentisitas menjadi bagian penting dalam menentukan pilihan.

Ketertarikan terhadap barang vintage salah satunya muncul dari cerita yang melekat pada sebuah produk.

Sebuah jaket lama, tas klasik atau sepatu bergaya retro bisa memiliki daya tarik tersendiri karena membawa nuansa dari masa lalu.

Fenomena tersebut juga terlihat dari kembali populernya sejumlah merek dan model klasik di kalangan anak muda.

Baca Juga: Tren Tas 2026 Makin Praktis, Model Barrel hingga Warna Burgundy Jadi Sorotan

Di Indonesia, ketertarikan terhadap barang lama turut mendorong berkembangnya pasar thrift shop.

Barang bekas tidak lagi selalu dipandang sebagai pilihan karena harga yang lebih terjangkau.

Bagi sebagian anak muda, berburu pakaian vintage juga menjadi cara untuk menemukan item yang berbeda dari produk fesyen yang diproduksi secara massal.

Gaya vintage memiliki daya tarik yang cukup panjang.

Model pakaian era 1990-an, sneakers klasik hingga tas bergaya retro kembali dipadukan dengan busana yang lebih modern.

Tas Jansport klasik, misalnya, kembali mendapat tempat di kalangan pengguna muda karena memadukan fungsi dengan sentuhan nostalgia.

Begitu pula dengan pakaian bergaya 90-an. Potongan lama dapat dipadukan dengan elemen fashion masa kini sehingga menghasilkan penampilan yang terasa lebih personal.

Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa tren lama tidak harus digunakan kembali secara utuh. Gen Z justru mengolahnya menjadi gaya baru sesuai karakter masing-masing.

Menariknya, ketertarikan Gen Z terhadap fashion vintage juga membuka kesempatan terjadinya interaksi lintas generasi.

Di media sosial seperti TikTok dan Instagram, misalnya, semakin banyak konten yang memperlihatkan orang dari berbagai kelompok usia berbagi inspirasi gaya.

Salah satunya influencer senior seperti Heidi Clements, yang tetap membagikan gaya berbusananya kepada pengikut dari berbagai usia.

Baca Juga: Tren Fashion Polkadot Bangkit Lagi, dari Busana hingga Aksesori Makin Stylish

Pengguna muda dapat menemukan ide dari seseorang yang usianya jauh lebih tua, sementara generasi senior juga dapat mengikuti perkembangan gaya yang dibawa anak muda.

Pada akhirnya, usia bukan satu-satunya ukuran dalam menentukan apakah sebuah gaya masih relevan.

Popularitas thrifting juga memiliki kaitan dengan meningkatnya perhatian terhadap gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

Membeli pakaian bekas membuat sebuah produk memiliki kesempatan untuk digunakan kembali, bukan langsung berakhir sebagai barang yang tidak terpakai.

Bagi Gen Z yang semakin memperhatikan isu keberlanjutan, konsep tersebut dapat menjadi pertimbangan ketika memilih fashion.

Selain itu, pakaian vintage memberikan kesempatan bagi pengguna untuk tampil dengan item yang tidak selalu mudah ditemukan di toko pakaian biasa.

Karena itu, aktivitas berburu barang thrift tidak hanya berkaitan dengan harga.

Ada unsur pencarian karakter, nostalgia hingga keinginan untuk memiliki gaya yang lebih personal.5

Kecenderungan Gen Z menggabungkan masa lalu dengan gaya masa kini ternyata tidak berhenti pada fashion.

Di media sosial, konten mengenai makanan tradisional, pakaian adat hingga perjalanan ke tempat bersejarah juga mendapat ruang.

Unsur tradisional kemudian dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan kebiasaan pengguna media sosial.(*)

(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : viva.co.id, berbagai sumber
fashion gen z fashion vintage trhifting gaya hidup gen z tren fashion 2026