Hati-Hati saat Menegur Anak, Ini 5 Kalimat yang Sebaiknya Dihindari

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 09:47 WIB
Orang Tua Menegur Anak
Source : Oasis Singels
Orang Tua Menegur Anak
Source : Oasis Singels

Jawa Pos Radar Lawu - Cara orang tua berbicara kepada anak dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan emosinya sehingga dibutuhkan parenting orang tua yang sangat penting bagi anak.

Ucapan yang bagi orang dewasa terdengar sederhana atau spontan, terkadang justru dapat membuat anak merasa sedih, tidak dihargai, atau bahkan mempertanyakan dirinya sendiri.

Hal tersebut terutama dapat terjadi ketika orang tua sedang marah, lelah, atau sibuk karena tanpa disadari, perkataan yang keluar dalam kondisi tersebut bisa membuat anak merasa dijauhi atau menjadi penyebab masalah di rumah.

Baca Juga: Mengenal Good Enough Parenting, Gaya Pengasuhan yang Tidak Menuntut Kesempurnaan

5 Ucapan yang Sebaiknya Tidak Sering Dikatakan kepada Anak

Ada beberapa perkataan yang sebaiknya mulai dikurangi dalam komunikasi sehari-hari dengan anak.

1. "Jangan ganggu Bunda!"

Ketika sedang mengurus pekerjaan rumah, bekerja, atau membutuhkan waktu untuk beristirahat, orang tua mungkin membutuhkan waktu tanpa gangguan. 

Namun, meminta anak menjauh dengan kalimat tersebut dapat membuatnya menangkap pesan bahwa kehadirannya tidak diinginkan.

Jika sedang tidak bisa menemani anak, Bunda dapat menjelaskan alasannya dengan lembut dan memberitahukan kapan bisa kembali meluangkan waktu untuknya.

2. “Kamu kok pemalu, cerewet, atau nakal?”

Anak yang berulang kali disebut pemalu, cerewet, atau nakal bisa saja mulai mempercayai bahwa sifat tersebut memang merupakan bagian dari dirinya.

Daripada memberikan cap pada kepribadiannya, orang tua sebaiknya membicarakan tindakan tertentu yang perlu diperbaiki sehingga anak dapat memahami perilaku mana yang kurang tepat tanpa merasa dirinya sebagai anak yang buruk.

3. “Kamu bikin Bunda pusing!”

Saat menghadapi perilaku anak yang melelahkan, orang tua mungkin secara spontan mengatakan bahwa anak membuat mereka pusing.

Padahal, perkataan tersebut dapat membuat Si Kecil merasa bahwa dirinya menjadi penyebab munculnya emosi negatif pada orang tua.

Solusinya yaitu bunda menjelaskan tindakan anak yang membuat situasi menjadi sulit dan mengajaknya mencari cara untuk memperbaikinya. 

4. “Kamu ini kenapa sih?”

Jika kalimat ini disampaikan dengan nada yang kurang tepat, anak justru bisa merasa malu, bersalah, atau takut dianggap tidak baik sehingga orang tua harus mencoba mencari tahu terlebih dahulu apa yang sedang dialami anak dan alasan di balik perilakunya.

5. “Mengapa kamu tidak seperti kakakmu?”

Perbandingan semacam ini dapat membuat anak merasa dirinya kurang mampu atau tidak sebaik kakaknya karena setiap anak mempunyai karakter, kemampuan, dan proses perkembangan yang berbeda.

Oleh karena itu, orang tua sebaiknya memberikan dukungan berdasarkan perkembangan masing-masing anak, bukan menjadikan saudara sebagai standar yang harus diikuti.

Baca Juga: Pola Asuh Anak Instingtif, Parenting yang Berdasarkan Naluri Orang Tua, Berikut Penjelasannya

Cara Berkomunikasi Lebih Positif dengan Anak

1. Dengarkan cerita anak dengan antusias

Biasakan memberi perhatian ketika Si Kecil ingin bercerita mengenai kegiatan sehari-harinya karena respons yang menunjukkan ketertarikan dapat membuat anak merasa didengarkan dan dihargai.

Bunda dapat menanyakan kembali hal-hal yang diceritakan anak atau menunjukkan rasa penasaran terhadap pengalamannya.

2. Jelaskan akibat dari tindakannya

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua sebaiknya menjelaskan apa yang mungkin terjadi akibat tindakan tersebut sehingga harus menghindari perkataan yang langsung memberikan prediksi buruk terhadap masa depannya.

Dengan menjelaskan konsekuensi secara jelas, anak dapat memahami alasan di balik aturan dan belajar bertanggung jawab terhadap pilihannya.

3. Bantu anak memahami emosinya

Ketika anak sedang sedih, marah, kecewa, atau kesal, orang tua dapat membantu menyebutkan dan memahami emosi tersebut.

Misalnya, ketika anak kecewa dengan hasil ujiannya, Bunda dapat mengakui rasa kecewanya terlebih dahulu kemudian mengajaknya mencari cara agar dapat belajar lebih baik pada kesempatan berikutnya.

4. Berikan teguran tanpa ikut terbawa emosi

Orang tua dapat menjelaskan perasaan mereka sekaligus menyebutkan perilaku yang perlu diperbaiki karena dengan komunikasi yang lebih tenang, anak dapat memahami batasan tanpa merasa dirinya ditolak.

5. Beri tahu anak ketika Bunda sedang sibuk

Jika orang tua sedang melakukan pekerjaan atau sesuatu apa pun dan tidak sempat menemani anak jangan langsung diusir namun dijelaskan bahwa ada kegiatan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Untuk anak yang sudah cukup besar, Bunda dapat mengajaknya melakukan aktivitas sendiri untuk sementara waktu dan menentukan kapan bisa kembali bermain atau menghabiskan waktu bersama.

Orang Tua Juga Bisa Melakukan Kesalahan

Membangun komunikasi yang baik dengan anak bukan berarti orang tua harus selalu memilih kata yang sempurna. 

Jika pernah membuat anak merasa sedih melalui perkataan, tidak ada salahnya mengakui kesalahan dan meminta maaf karena sikap tersebut juga dapat menjadi contoh bahwa meminta maaf merupakan bagian dari belajar bertanggung jawab.

Dengan membiasakan komunikasi yang lebih tenang dan menghargai perasaan anak, hubungan antara orang tua dan Si Kecil dapat terjalin dengan lebih baik.

Teguran tetap bisa diberikan, tetapi anak juga perlu memahami bahwa kesalahan dalam perilakunya tidak berarti dirinya adalah anak yang buruk.

(Auliya Nur Aisyah, Magang Politeknik Negeri Madiun)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
5 Ucapan yang Sebaiknya Tidak Sering Dikatakan kepada Anak