Di Tengah Dominasi Smartwatch, Jam Tangan Jadul Justru Jadi Gaya Baru Gen Z

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 15:19 WIB
Jam Tangan Retro Kembali Viral di 2026. Foto: gadget.viva.co.id
Jam Tangan Retro Kembali Viral di 2026. Foto: gadget.viva.co.id

Jawa Pos Radar Lawu - Ketika layar sentuh dan kecerdasan buatan semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari, sebagian anak muda justru memilih kembali pada sesuatu yang jauh lebih sederhana. Bukan layar digital, melainkan jarum jam yang bergerak perlahan di atas dial.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya ketertarikan generasi muda, khususnya Gen Z, terhadap jam tangan analog dan vintage.

Di saat smartwatch menawarkan notifikasi, penghitung langkah, pemantau tidur hingga fitur olahraga, jam tangan klasik justru menghadirkan pengalaman yang lebih sederhana.

Penggunanya hanya perlu melihat pergelangan tangan untuk mengetahui waktu. Tidak ada notifikasi pekerjaan, pesan instan, media sosial, atau berbagai pengingat yang berpotensi mengalihkan perhatian.

Kembalinya jam tangan analog tidak semata-mata berkaitan dengan urusan penampilan. Di balik tren tersebut terdapat perubahan cara sebagian anak muda memandang teknologi dan kehidupan yang serba terhubung.

Smartwatch memang menawarkan banyak kemudahan. Namun, konektivitas yang terus aktif juga membuat seseorang tidak pernah benar-benar jauh dari ponsel.

Notifikasi email, pesan WhatsApp, pekerjaan, hingga aktivitas media sosial dapat muncul kapan saja. Dalam kondisi seperti itu, memilih jam analog dapat menjadi cara sederhana untuk mengurangi interupsi digital.

Jam tangan klasik memberikan satu fungsi utama: menunjukkan waktu. Bagi sebagian pengguna, kesederhanaan tersebut justru menjadi daya tarik.

Pergelangan tangan tidak lagi dipenuhi informasi, melainkan hanya menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan tanpa harus selalu terhubung dengan dunia digital.

Baca Juga: Bingung Pilih Jam Tangan Analog atau Digital? Kenali Perbedaan dan Keunggulannya

Ketertarikan Gen Z terhadap jam vintage juga tidak bisa dilepaskan dari unsur nostalgia. Menariknya, sebagian dari mereka bahkan tidak mengalami langsung masa ketika model-model tersebut populer. Namun, justru di situlah daya tariknya.

Jam tangan dari era 1960-an hingga 1990-an memiliki desain dan karakter yang berbeda dengan produk modern. Goresan pada casing, warna dial yang berubah seiring usia, hingga tali kulit yang mulai mengikuti bentuk pergelangan dapat menjadi bagian dari cerita sebuah jam.

Karakter semacam itu sulit ditemukan pada produk yang dibuat secara massal dengan desain seragam.

Bagi Gen Z, jam tangan vintage akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai aksesori. Benda tersebut dapat menjadi bagian dari identitas dan cara seseorang mengekspresikan selera personal.

Jam bukan lagi sekadar tentang merek atau harga. Cerita mengenai pembuatnya, sejarah model, proses pengerjaan hingga nilai yang dibawa sebuah produk juga menjadi bagian dari pertimbangan.

Pertimbangan lain yang muncul adalah keberlanjutan. Di tengah kritik terhadap budaya konsumsi cepat, barang yang memiliki umur panjang mulai mendapatkan perhatian lebih.

Jam vintage menawarkan konsep penggunaan kembali sebuah produk yang telah melewati perjalanan panjang. Alih-alih membeli benda baru secara terus-menerus, sebagian konsumen memilih mencari produk lama yang masih memiliki nilai estetika dan fungsi.

Hal tersebut juga membuat material dan proses produksi menjadi semakin diperhatikan.

Dalam perkembangan industri jam, sejumlah merek mulai menghadirkan alternatif material yang diklaim lebih ramah lingkungan. Ada yang menawarkan tali berbahan vegan hingga penggunaan material daur ulang.

Untuk menarik perhatian generasi muda, industri jam tangan juga tidak hanya mengandalkan model klasik. Kolaborasi dengan dunia fashion, musik, seni, dan budaya populer menjadi salah satu strategi yang banyak digunakan.

Baca Juga: Seiko Star Time Resmi Diperkenalkan, Jam Tangan Unik untuk Shohei Ohtani yang Mampu Menghitung hingga 1 Juta Jam

Salah satu contohnya adalah kolaborasi Swatch dan Omega melalui MoonSwatch. Koleksi tersebut membawa desain yang terinspirasi Omega Speedmaster ke dalam pendekatan yang lebih playful dan mudah diterima oleh pasar yang lebih luas.

Audemars Piguet juga pernah menggandeng rapper Travis Scott bersama label Cactus Jack untuk menciptakan Royal Oak Offshore Limited Edition.

Kolaborasi semacam itu memperlihatkan bagaimana jam tangan dapat masuk ke berbagai ruang budaya. Produk yang awalnya dikenal melalui dunia horologi kemudian bertemu dengan musik, fashion, dan gaya hidup urban.

Menariknya, kebangkitan benda analog justru berlangsung di tengah dunia digital.

Media sosial menjadi tempat bagi para kolektor muda, penggemar horologi, hingga influencer gaya hidup untuk berbagi referensi jam tangan. Konten mengenai model langka, sejarah sebuah jam, mekanisme mesin, hingga cara memadukan jam dengan pakaian ikut memperluas minat terhadap horologi.

Ketertarikan terhadap jam vintage kemudian berpengaruh pada pasar sekunder. Jam tangan bekas menawarkan beberapa daya tarik sekaligus, mulai dari harga, karakter, keberlanjutan hingga kesempatan mendapatkan model yang sudah tidak diproduksi.

Berdasarkan bahan artikel Harper's Bazaar Indonesia yang mengutip Financial Times, sekitar 20 persen Gen Z diperkirakan akan membeli jam tangan mewah dalam satu tahun ke depan. Pasar jam tangan bekas juga disebut diprediksi tumbuh sekitar 10–12 persen per tahun selama dekade ini.

Sementara itu, laporan Sotheby's pada 2024 yang dikutip dalam bahan tersebut menyebut jumlah peserta lelang jam tangan berusia di bawah 35 tahun meningkat lebih dari 40 persen dalam tiga tahun terakhir.

Angka-angka tersebut memperlihatkan adanya perhatian generasi muda terhadap pasar jam tangan sekunder dan koleksi vintage.

Platform seperti Hodinkee, WatchBox, dan Chrono24 pun menjadi bagian dari ekosistem tempat kolektor mencari referensi, membandingkan model, hingga mempelajari sejarah sebuah jam.

Pada akhirnya, kembalinya jam tangan analog di kalangan Gen Z bukan sekadar cerita tentang benda lama yang kembali populer.

Di balik jarum yang bergerak perlahan, terdapat keinginan untuk memiliki sesuatu yang lebih personal, tidak selalu terhubung dengan notifikasi, sekaligus memiliki cerita yang bisa diwariskan.

Di tengah kehidupan yang bergerak semakin cepat, jam tangan vintage menawarkan pengalaman yang berbeda. Ia tidak meminta pemiliknya untuk terus memperbarui layar atau mengejar notifikasi.(*)

(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : harpersbazaar.co.id, okinews.disway.id, berbagai sumber
jam tangan analog Jam Tangan Vintage Tren Jam Tangan 2026 smartwatch Gen Z