Jawa Pos Radar Lawu – Pasar tak harus melulu berisi hiruk-pikuk transaksi antara pedagang dan pembeli. Di Pasar Sleko Kota Madiun, denyut berbeda perlahan tumbuh dari lantai dua: musik, ruang berkarya, obrolan kreatif, hingga aroma semangkuk bakmi.
Anak-anak muda mulai memiliki alasan lain untuk datang. Bukan hanya berbelanja, tetapi juga bertemu sesama penggiat seni, merancang pertunjukan musik, berdiskusi soal lagu, atau sekadar menikmati kuliner.
Salah satu ruang yang membawa warna baru tersebut adalah Ruang 13. Wadah musik dan seni itu digagas tiga founder, yakni Ragil Herlambang, Indus Adi, dan Khairul Majid.
Ruang 13 mulai menempati salah satu kios Pasar Sleko pada 21 Juli 2026 setelah memperoleh kesempatan melalui program Sleko Youth Market. Namun, tempat tersebut sejak awal tidak dirancang sekadar menjadi toko.
Ruang 13 menjadi rumah sekaligus kantor bagi Marigawe, sebuah gerakan yang berupaya menyediakan ruang bagi musisi, penggiat seni, maupun mereka yang ingin belajar dan menghasilkan karya di bidang musik.
Sebelum memiliki tempat permanen, aktivitas mereka lebih banyak berlangsung secara daring. Sesekali, kegiatan diwujudkan melalui gigs atau pertunjukan musik skala kecil dengan lokasi yang berpindah-pindah.
"Kita dapat kesempatan untuk membuka satu kios, sebagai berwadah. Teman-teman yang ingin berkreativitas juga lebih mudah mempromosikan karyanya," ujar salah satu founder Ruang 13, Khairul Majid, 27.
Kehadiran tempat fisik kemudian memperluas fungsi gerakan tersebut. Ruang 13 menjadi etalase bagi karya musisi lokal sekaligus titik temu orang-orang dengan ketertarikan yang sama.
Berbagai rilisan musik dipajang dan dijual di sana. Selain itu, tersedia sejumlah produk kreatif, mulai handbag hingga barang buatan para penggiat yang tergabung dalam ekosistem tersebut.
Baca Juga: Usir Kecoa di Kamar Tidur? Ini Cara Alami yang Mudah Dicoba
Visinya tidak berhenti di Kota Madiun. Ruang 13 ingin menghubungkan komunitas musik di Madiun dengan jejaring yang lebih luas di wilayah Karesidenan Madiun.
Karena itu, orang yang datang tidak selalu berstatus pembeli. Ada yang merancang pertunjukan musik, berdiskusi mengenai pembuatan lagu dan rekaman, membicarakan alat musik, atau sekadar bertukar gagasan.
Ruang 13 biasanya mulai beraktivitas selepas magrib. Pada hari biasa, tempat tersebut buka hingga sekitar pukul 21.00 WIB, sedangkan akhir pekan bisa berlangsung sampai pukul 22.00 WIB.
Jadwal tersebut fleksibel. Ketika ada pertunjukan musik atau agenda kreatif, operasional kios dapat diliburkan karena para penggiatnya terlibat langsung dalam kegiatan.
Keterbatasan ruang maupun kondisi yang ada tidak dianggap sebagai penghalang. Bagi mereka, perjalanan membangun ekosistem justru menjadi bagian penting dari Ruang 13.
"Kita tidak pernah memikirkan kekurangannya. Yang kita lihat adalah perjalanan ini bisa berkembang setiap harinya," ungkap Khairul.
Denyut lantai dua Pasar Sleko tidak hanya datang dari musik dan seni. Jauh sebelum sejumlah ruang baru bermunculan, ada usaha kuliner yang mencoba menarik orang naik ke lantai tersebut.
Salah satunya Bakmi Djoeang. Kedai ini berdiri sejak 18 Agustus 2024 dan menjadi salah satu usaha yang lebih dahulu menempati lantai dua Pasar Sleko.
Odi Reza Meindra, 21, salah seorang karyawan, telah bekerja di kedai tersebut selama sekitar dua tahun. Nama Djoeang sendiri dipilih untuk membawa makna perjuangan bersama.
Usaha tersebut dimiliki empat orang, termasuk Hendika Satria Akbar, 30, dan Guru Sikit Santoso, 30.
Baca Juga: Jangan Langsung Ganti Wajan, Cek Dulu Penyebabnya Sering Lengket Saat Memasak
Bakmi Djoeang beroperasi mulai pukul 11.00 hingga 21.00 WIB. Namun, aktivitas dapur sudah dimulai sekitar pukul 09.00 untuk mempersiapkan dagangan.
Waktu paling sibuk biasanya datang pada malam hari, terutama selepas magrib sekitar pukul 18.30 WIB.
Membangun pasar pembeli di lantai dua bukan perkara mudah. Terlebih, ketika Bakmi Djoeang mulai beroperasi, belum banyak usaha lain yang ikut meramaikan kawasan tersebut.
"Dulu lebih ramai, sekarang agak berkurang," kata Odi.
Kendati demikian, Bakmi Djoeang memilih bertahan dengan konsep awal dan belum membuka cabang di lokasi lain. Mereka justru ingin menjadikan Pasar Sleko sebagai tujuan bagi konsumen yang ingin mencicipi menu tersebut.
Salah satu kekuatan Bakmi Djoeang terletak pada proses produksinya. Mi, kulit pangsit, topping, hingga isian dibuat sendiri oleh tim mereka.
Ketika kondisi memungkinkan, produksi bisa mencapai sekitar 100 porsi dalam sehari. Pilihan menu pun sengaja tidak dibuat terlalu banyak demi menjaga karakter dan cita rasa bakmi yang mereka racik sendiri.
Media sosial ikut menjadi pintu masuk pelanggan baru. Instagram dan TikTok digunakan sebagai sarana promosi meski pengelolaannya belum dilakukan secara rutin.
Promosi juga datang dengan cara tak terduga. Sejumlah mahasiswa yang mengunjungi kedai untuk mengerjakan tugas kuliah sekaligus membuat konten turut membantu mengenalkan Bakmi Djoeang kepada khalayak lebih luas.
Karakter konsumennya berubah mengikuti waktu. Siang hari lebih banyak didatangi pelajar, sedangkan malam hari didominasi orang tua dan keluarga.
Anya, 19, dan Tri, 44, misalnya, mengetahui Bakmi Djoeang melalui TikTok. Keduanya kemudian mampir setelah berbelanja di Pasar Sleko.
"Recommended banget, worth it dengan harga segitu. Bakminya juga enak," ujar Anya dan Tri.
Kehadiran Ruang 13 dan Bakmi Djoeang memperlihatkan perubahan kecil yang sedang tumbuh di Pasar Sleko. Fungsi pasar perlahan tidak hanya berkutat pada transaksi jual beli, tetapi ikut menyediakan ruang untuk bertemu, berkarya, dan menikmati kuliner.
Ruang kreatif membawa komunitas musik masuk ke pasar. Sementara kuliner menciptakan alasan bagi masyarakat untuk datang dan tinggal lebih lama.
Dua aktivitas berbeda itu bertemu pada satu tujuan: membuat Pasar Sleko tetap memiliki denyut di tengah perubahan kebiasaan masyarakat.
Bagi para penggeraknya, upaya tersebut bukan semata soal mempertahankan usaha. Mereka ingin Pasar Sleko menjadi ruang yang mampu mempertemukan masyarakat dan generasi muda melalui musik, seni, kuliner, serta kreativitas.
Dari kios kecil, semangkuk bakmi, sampai obrolan tentang lagu baru, wajah lain Pasar Sleko itu kini perlahan sedang dibangun. (*/naz)
*Azarine Nirwasita Zada, Politeknik Negeri Madiun
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu