Jawa Pos Radar Lawu - Tanpa disadari, melihat pencapaian atau kehidupan orang lain terkadang membuat seseorang merasa tertinggal.
Apalagi ketika media sosial dipenuhi unggahan tentang prestasi, liburan, penampilan, maupun kehidupan yang terlihat menyenangkan. Padahal, apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan kehidupan seseorang secara keseluruhan.
Kebiasaan membandingkan diri sebenarnya tidak selalu buruk. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut bisa menjadi dorongan untuk belajar dan berkembang.
Namun, jika dilakukan terus-menerus hingga membuat diri merasa kurang, minder, atau kehilangan kepercayaan diri, kebiasaan tersebut perlu mulai dikurangi.
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membangun cara pandang yang lebih sehat terhadap diri sendiri.
Baca Juga: Sering Membandingkan Diri di Media Sosial? Hati-hati Bisa Jadi Kamu Terjebak Comparison Trap
1. Kenali Hal yang Memicu Kebiasaan Membandingkan Diri
Langkah pertama mencari tahu situasi yang biasanya membuatmu mulai membandingkan diri dengan orang lain.
Pemicu tersebut bisa berasal dari media sosial, percakapan dengan teman, maupun ketika melihat pencapaian orang lain.
Jika media sosial menjadi salah satu pemicunya, cobalah mengurangi waktu scrolling.
Tidak perlu langsung berhenti sepenuhnya, tetapi berikan batas waktu agar perhatian tidak terus tertuju pada kehidupan orang lain.
Kamu juga bisa menghindari sementara percakapan atau situasi yang membuat diri merasa tertekan. Dengan mengenali pemicu, kamu akan lebih mudah mengendalikan kebiasaan tersebut.
2. Ingat bahwa Media Sosial Bukan Gambaran Utuh
Unggahan di media sosial umumnya hanya menunjukkan momen tertentu.
Foto liburan, pencapaian, atau aktivitas menyenangkan yang terlihat di layar tidak selalu memperlihatkan kesulitan dan masalah yang mungkin sedang dialami seseorang.
Karena itu, hindari menjadikan unggahan orang lain sebagai ukuran kehidupan sendiri. Setiap orang memiliki kondisi, kesempatan, proses, dan waktu yang berbeda.
Ketika melihat sesuatu yang membuat minder, cobalah mengingat bahwa kamu hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan orang tersebut.
3. Fokus pada Perkembangan Diri Sendiri
Daripada terus melihat seberapa jauh orang lain melangkah, coba perhatikan perkembangan diri sendiri.
Pencapaian kecil tetap layak dihargai karena setiap kemajuan memiliki proses di belakangnya. Kamu bisa mulai mencatat hal-hal yang berhasil dilakukan setiap hari.
Misalnya, menyelesaikan tugas tepat waktu, mempelajari keterampilan baru, berani mencoba sesuatu, atau berhasil menyelesaikan pekerjaan yang sebelumnya terasa sulit.
Kebiasaan tersebut dapat membantu mengalihkan perhatian dari pencapaian orang lain kepada perjalanan diri sendiri.
4. Biasakan Berbicara Positif kepada Diri Sendiri
Pikiran negatif sering muncul ketika seseorang merasa dirinya tidak cukup baik dibandingkan orang lain.
Untuk mengatasinya, cobalah mengganti pikiran tersebut dengan kalimat yang lebih positif dan realistis.
Daripada mengatakan, “Aku kalah dari dia,” coba ubah menjadi, “Aku punya proses sendiri dan masih bisa terus berkembang.”
Positive self-talk bukan berarti mengabaikan kekurangan. Cara ini lebih kepada belajar melihat diri secara lebih seimbang dan menghargai usaha yang sudah dilakukan.
5. Kurasi Konten dan Luangkan Waktu untuk Hal yang Disukai
Jika ada akun atau jenis konten tertentu yang terus membuatmu merasa minder, tidak ada salahnya mengurangi paparan terhadap konten.
Kamu bisa berhenti mengikuti akun yang tidak memberikan dampak baik dan menggantinya dengan konten edukatif, hiburan, atau inspirasi yang lebih positif.
Selain itu, gunakan waktu untuk melakukan aktivitas yang memang kamu sukai. Membaca, memasak, berolahraga, menekuni hobi, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat bisa menjadi pilihan.
Melakukan kegiatan yang menyenangkan dapat membantu perhatian kembali tertuju pada kehidupan sendiri, bukan terus memikirkan pencapaian orang lain.
Belajar Menghargai Proses Diri Sendiri
Berhenti membandingkan diri dengan orang lain memang membutuhkan waktu. Terlebih jika kebiasaan tersebut sudah berlangsung cukup lama.
Namun, perubahan dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti membatasi scrolling, mengatur konten yang dikonsumsi, mencatat pencapaian, dan belajar berbicara lebih baik kepada diri sendiri.
Tidak semua orang harus berada di tempat yang sama pada waktu yang sama. Karena itu, daripada terus mengukur diri berdasarkan kehidupan orang lain, cobalah melihat sejauh mana dirimu sudah berkembang.
Dengan begitu, perjalanan hidup bisa terasa lebih ringan karena keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh pencapaian orang lain, melainkan oleh perkembangan yang berhasil kamu capai dari waktu ke waktu.
(Iis Choirrunisa, Magang Politeknik Negeri Madiun)
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : IDN Times, alodokter