Jawa Pos Radar Lawu - Hidup di era digital membuat masyarakat nyaris tidak pernah lepas dari ponsel dan media sosial.
Namun, di tengah derasnya arus informasi yang terus mengalir, muncul kebiasaan baru di kalangan Gen Z Indonesia, yaitu digital detox.
Tren ini semakin berkembang pada 2025 sebagai upaya untuk mengurangi paparan dunia digital demi menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan kualitas hidup.
Bagi banyak anak muda, digital detox bukan berarti meninggalkan teknologi sepenuhnya.
Sebaliknya, kebiasaan ini dilakukan untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan perangkat digital agar aktivitas sehari-hari menjadi lebih seimbang.
Mengapa Digital Detox Semakin Populer?
Meningkatnya penggunaan media sosial membuat banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menggulir layar tanpa tujuan yang jelas.
Kebiasaan tersebut dapat memicu kelelahan mental, menurunkan konsentrasi, hingga mengganggu kualitas tidur.
Baca Juga: Chase Atlantic, Trio Australia yang Mendobrak Batas Genre Musik Modern
Fenomena ini dikenal sebagai digital fatigue, yaitu kondisi ketika otak terus-menerus menerima informasi dari berbagai platform digital sehingga sulit mendapatkan waktu untuk beristirahat.
Gen Z yang tumbuh bersama internet menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.
Karena itu, semakin banyak anak muda mulai membatasi penggunaan gawai agar dapat menikmati aktivitas di dunia nyata.
Berbagai Bentuk Digital Detox
Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menjalankan digital detox. Beberapa metode yang banyak dipilih antara lain:
- Tidak menggunakan ponsel selama satu hari penuh.
- Menjalani akhir pekan tanpa media sosial (screen-free weekend).
- Menentukan jam tertentu setiap hari tanpa gawai.
- Mengikuti digital detox retreat di alam tanpa akses internet.
Metode tersebut dipilih sesuai kebutuhan masing-masing dengan tujuan utama mengurangi ketergantungan terhadap perangkat digital.
Manfaat Digital Detox untuk Kesehatan Mental
Mengurangi waktu layar memberikan berbagai manfaat, terutama bagi kesehatan mental.
1. Mengurangi Stres dan Kecemasan
Paparan media sosial sering memunculkan kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.
Dengan membatasi akses terhadap platform digital, tekanan sosial tersebut dapat berkurang sehingga tingkat stres dan kecemasan ikut menurun.
2. Membantu Tidur Lebih Berkualitas
Penggunaan ponsel sebelum tidur diketahui dapat mengganggu produksi hormon melatonin akibat paparan cahaya biru dari layar.
Ketika waktu penggunaan gawai dikurangi, tubuh memiliki kesempatan untuk memasuki fase istirahat secara alami sehingga kualitas tidur menjadi lebih baik.
3. Meningkatkan Produktivitas
Tanpa notifikasi yang terus bermunculan atau kebiasaan scrolling tanpa henti, seseorang dapat lebih fokus menyelesaikan pekerjaan maupun belajar.
Bagi Gen Z yang aktif di dunia pendidikan maupun pekerjaan, kebiasaan ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi dalam menyelesaikan berbagai aktivitas.
Tantangan Saat Menjalani Digital Detox
Baca Juga: Snapdragon Wear Elite Resmi Diumumkan, Bawa AI Lokal ke Smartwatch hingga Perangkat Wearable
Meski menawarkan banyak manfaat, digital detox bukanlah kebiasaan yang mudah diterapkan.
Salah satu tantangan terbesar adalah munculnya rasa Fear of Missing Out (FOMO) atau kekhawatiran tertinggal informasi penting ketika tidak membuka media sosial.
Selain itu, aktivitas sekolah, kuliah, maupun pekerjaan kini banyak bergantung pada perangkat digital sehingga sulit untuk benar-benar memutus koneksi internet.
Tidak sedikit pula yang kembali menggunakan ponsel karena kebiasaan tersebut sudah terbentuk selama bertahun-tahun.
Oleh sebab itu, penerapan digital detox umumnya dilakukan secara bertahap agar lebih mudah dijalankan.
Dukungan Komunitas dan Teknologi
Kesadaran akan pentingnya digital wellbeing juga mendorong lahirnya berbagai komunitas yang mengajak masyarakat menjalani digital detox bersama.
Di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Berbagai kegiatan seperti diskusi, workshop, hingga tantangan bebas media sosial mulai banyak digelar untuk mendukung gaya hidup yang lebih sehat.
Sementara itu, perusahaan teknologi juga menghadirkan berbagai fitur yang membantu pengguna mengontrol waktu penggunaan perangkat, seperti:
- Screen Time Tracker
- Focus Mode
- Pengingat batas penggunaan aplikasi
Fitur-fitur tersebut memungkinkan pengguna memantau sekaligus mengurangi durasi penggunaan gawai secara lebih disiplin.
Berpotensi Mengubah Gaya Hidup di Masa Depan
Apabila tren digital detox terus berkembang, dampaknya diperkirakan tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga masyarakat secara luas.
Interaksi tatap muka berpotensi meningkat karena masyarakat mulai mengurangi ketergantungan terhadap komunikasi digital.
Di sisi lain, perusahaan teknologi juga didorong untuk menghadirkan aplikasi yang lebih ramah terhadap kesehatan mental pengguna.
Bagi Gen Z, digital detox menjadi langkah penting untuk membangun keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.
Teknologi tetap dimanfaatkan sebagai alat penunjang aktivitas, bukan menjadi pusat dari seluruh rutinitas sehari-hari.
Azarine Nirwasita Zada, Politeknik Negeri Madiun
Editor : Tim Content Writer Radar LawuSumber : https://ayokutip.com/fenomena-digital-detox-gen-z-indonesia/